Tags

, , , , ,

Ringkasan  Khutbah Jum’at  Hz. Mirza Masroor Ahmad Khalifatul Masih V ATBA
Di terjemahkan dari: http://www.alislam.org/friday-sermon/20110812.html#summary-tab  

   RAMADHAN DAN PARA HAMBA ALLAH YANG MAHA AGUNG

‘Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku’ (2:187)

Huzur memulai khutbahnya dengan membacakan ayat Qur’an yang artinya sebagai berikut:

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu dalam kebenaran.’ (2:187).

Semakin orang berpaling pada Tuhan maka semakin jauh pengabulan-Nya kepada mereka. Terkadang orang yang sulit menjalin komunikasi dengan Tuhan diselamatkan dari bencana, musibah dan diberikan rezeki yang cukup; yaitu orang yang Tuhan ciptakan mendominasi di atas muka bumi. Terkadang juga mereka yang sering menjalin komunikasi dengan Tuhan kelihatannya tidak mengerti bahwa pengabdian dan keimanan tidaklah cukup. Yang dibutuhkan untuk hal itu yaitu esensi jiwa ruhani yang memberi kita iman. Dengan kata lain tiga perempat bagian jumlah populasi manusia di dunia menjalin hubungan dengan-Nya dan menyangkal keberadaan-Nya. Mereka tidak hanya menyangkal-Nya, tapi juga mereka menyesatkan orang lain. Hanya sebagian kecil umat manusia yang yakin dan beriman kepada Tuhan serta membenarkan tentang penggenapan nubuwatan terhadap Nabi Suci saw. Mereka percaya bahwa ketika orang sudah mulai lupa dengan sang Khalik dan tidak merasakan akan keberadaan-Nya, sebagai perwujudan sifat Rabbubiyat (pemelihara)Nya dan menyelamatkan dunia dari kekacauan, Allah mengutus Imam zaman. Melalui keagungan-Nya, mereka adalah orang yang berada dalam Jema’at Ahmadiyah.

Huzur bersabda, apakah cukup hanya meyakini dengan teguh bahwa Imam yang dijanjikan telah turun dan segelintir pengikutnya akan berusaha untuk mengakhiri kekacauan ini? Jika kita begitu, maka pola pikir seperti itu akan menempatkan kita sederajat dengan mereka yang mengaku beriman dan beribadah tapi jauh dari pengamalannya. Jika kita tidak berhati-hati pada diri kita, tidak menjalin hubungan dengan Allah SWT maupun mengajarkannya pada generasi penerus dan mengingatkan orang disekeliling kita tentang nasehat Hadhrat Masih Mau’ud, maka kita pada hakikatnya telah tersesat darinya. Dalam hal ini, kita telah menanamkan kebencian pada dunia dan kehilangan petunjuk dari Allah swt. Setelah mengambil bai’at kepada Hadhrat Masih Mau’ud a.s, kita perlu melatih ruhani Ibaadur Rahman (Hamba Allah Yang Maha Agung) dalam diri kita. Yaitu jiwa ruhani yang mana Hadlrat Muhammad saw amalkan semasa hidup-Nya. Ketika Nabi Mulia saw diberitahukan tentang nasib umat-Nya kelak, dia khawatir, tapi Tuhan meyakinkan-Nya dengan memberi ayat yang artinya:

Dan diantara mereka yang belum masuk bersama mereka. Allah Maha Besar, dan Maha Bijaksana (62:4).

Hilangnya kekhawatiran dengan pernyataan bahwa Allah telah menciptakan orang-orang yang acuh, jahat, dan bodoh menjadi orang yang shaleh (melalui islam), meskipun mengalami kemerosotan, dalam hal semangat dan ketulusan pengikut diantara pengikut sebelum kamu, orang-orang Ummah akan menjadi ‘Ibaadur Rahman dan orang yang shaleh. Setelah kemerosotan yang tidak lama tersebut, Tuhan Yang Maha Besar dan Bijaksana akan menentukan bahwa keimanan kepada Hadhrat Muhammad saw adalah harapan satu-satunya untuk menjauhkan bumi dari kehancuran. Sekarang ini Hadhrat Muhammad saw, Hadhrat Masih Mau’ud a.s beserta para pengikutnya memegang peranan penting dalam meningkatkan hubungan dengan Allah SWT.

Hadhrat Masih Mau’ud a.s menulis sabdanya sebagai berikut:
“Dalam kata Rabbilalamin, Allah, Yang Maha Suci, menyatakan bahwa Dialah sang Khalik dan dari-Nya segala sesuatu ditunjukkan yaitu adanya surga dan dunia. Kata ‘aalamiin melampaui apa pun yang ada di bumi, golongan yang diberi petunjuk maupun yang sesat.  Pada waktunya, alam (pengetahuan) tidak mendapat petunjuk, tidak beriman, kemerosotan moral dan tindakan yang berlebihan hingga dunia dipenuhi ketidak adilan, tirani dan orang mulai meninggalkan perintah Allah SWT. Mereka tidak menghargai hubungan alami antara sang Khalik dan makhluk-Nya dan menganggap-Nya sebagai Sang Pemurah  dan Pemelihara. Dunia menjadi gelap bagaikan langit yang gelap dan keimanan memudar dalam kesengsaraan. Maka Allah memberikan alam (pengetahuan) yang lain, bumi digantikan dengan bumi yang lain dan maklumat turun dari surga dan umat manusia diberikan hati dan lidah untuk mengucapkan syukur kepada Allah atas rahmat-Nya. Kemudian mereka merendahkan diri seperti lajur yang sering dilewati, dibelakang Sang Maha Kuasa dan menuju kepada-Nya dalam ketakutan dan pengharapan, mata mereka sayup dengan kerendahan dan wajah mereka merenung pada Sang Pemurah dengan sebuah keyakinan dalam kepatuhan yang sangat mendalam. Orang seperti mereka sangat dibutuhkan ketika mereka kehilangan petunjuk terjadi dalam kemerosotan akhlak sehingga mereka menjadi tidak bermoral. Pada saat itu hasrat Ilahi dan keinginan-Nya mendorong untuk mengangkat seseorang kesurga yang seharusnya menghilangkan kegelapan dan kebinasaan yang telah dibangun dan dibangkitkan oleh Syaitan. Kemudian seorang Imam (pemimpin) turun dari Rahman (Yang Maha Pemurah) melawan pasukan Syaitan dan mereka terlibat dalam pertempuran – hanya mereka yang merasakan keberadaan orang-orang yang diberi penglihatan batin – hingga kemungkaran di kekang – dan asa seperti alasan ditutup-tutupi. Sang Imam mendominasi musuh dan terus memberikan dukungan ke jalan kebenaran, mengangkat tinggi slogan kebenaran, menjadikan masa dan pertemuan yang alim, hingga orang menyadari bahwa dia telah berhasil menangkap biangkerok dari kekafiran, membelenggu mereka, mengikat monster kemungkaran, mengikat tali di leher mereka, dan menghancurkan pilar rumah mereka.

[catatan pada ayat Our’an 91-92]
Huzur menjelaskan bahwa perubahan revolusi tersebut terjadi melalui Hadhrat Muhammad (saw), akan tetapi hal itu bukanlah perubahan sementara karena dia adalah Penyempurna dari semua nabi Allah dan syariat-Nya akan berlaku selamanya sampai Hari Pembalasan. Seperti yang Huzur paparkan sebelumnya, Tuhan memberi Hadhrat Muhammad saw kabar bahwa akan datang seseorang yang akan meneruskan perubahan ini. Seperti yang disabdakan Hadhrat Masih Mau’ud a.s bahwa: ‘Allah Yang Maha Suci telah menyebutkan diri-Nya sebagai Tuhan semesta alam (Rabbil ‘Aalamiin) bahwa Dia lah sang khalik yang patut disembah di surga dan di bumi dan pujian-Nya di sampaikan secara terus menerus oleh para hamba-Nya yang berjuang di jalan-Nya. Tidak ada yang lain kecuali pujian dan kemuliaan bagi-Nya sepanjang masa. Ketika hambanya membuang keinginannya yang dipenuhi dengan nafsu, hanya berfokus pada Allah semata, petunjuk-Nya dan karunia-Nya, dan mengetahui Tuhan yang membimbingnya, maka dia akan memuliakan-Nya sepanjang waktu dengan mencintai-Nya sepenuh hati, bahkan dari setiap organ yang ada didalam tubuhnya. Orang tersebut juga menjadi alam (dunia) dari ‘aalamiin (seluruh dunia).  Makanya Ibrahim di panggil Umma (sebuah kaum) dalam Kitab yang merupakan sumber segala ilmu (16.121)
Dari ‘aalamiin ada sebuah kata’ aalam ketika Penyempurna dari Semua Nabi datang.  Ada juga aalam yang lain saat Allah harus membawa orang yang beriman, di kemudian hari, sebagai berkat bagi para pencari kebenaran. Ada sebuah petunjuk dalam ayat-Nya : Semua puji-pujian kepunyaan Allah dari awal sampai akhir (28.71). Dalam hal ini Allah menyebutkan tentang dua orang Ahmad dengan menggambarkan mereka sebagai karunia terbesar-Nya. Yang pertama yaitu Ahmad Mustafa (yang terpilih), Nabi pilihan (saw) dan yang satu lagi yaitu Ahmad di akhir zaman, yaitu Masih dan Mahdi dari Allah Yang Maha Pemurah.’ [catatan Qur’an 93-94]

Lebih jauh Huzur menerangkan bahwa semua itu memerlukan kesetiaan dan cinta yang tulus sebagai hamba Tuhan, dengan keinginan dan nafsunya serta meleburkan dirinya pada wujud Tuhan bahwa Tuhan telah mengirimkan Hadhrat Masih Mau’ud a.s pada akhir zaman. Perubahan revolusi yang telah Tuhan semesta alam kabarkan akan datang sebagai Ahmad yang kedua, sekarang telah dilanjutkan oleh para pengikutnya. Mereka adalah orang yang menerimanya dan mencoba untuk menjadi ‘Ibaadur Rahman serta menolong orang lain untuk menjadi ‘Ibaadur Rahman Hadhrat Masih Mau’ud a.s mengambil tugas yang amat berat dalam fase kedua Islam dengan akhlak yang mulia para sahabat, mereka menjadi ‘Ibaadur Rahman dan mempunyai jiwa keruhanian yang mulia. Meskipun, penggenapan nubuwwatan telah digenapkan. Tapi pengembangan dan peningkatan Jema’at terus berlanjut sampai akhir zaman. Oleh karena itu apa yang telah disebutkan sebelumnya belumlah cukup, kita harus mengetahui tanggung jawab dan esensi dari tingkat kontinuitas yang kita lihat dalam kehidupan para sahabat Hadhrat Masih Mau’ud a.s.  Sekarang adalah tugas setia para Ahmadi untuk menyelamatkan dunia dari masalah dan menjalin hubungan dengan Allah, akan tetapi kita tidak bisa memenuhi kewajiban tersebut sampai kita memperoleh derajat keimanan yang tinggi dari Tuhan dan kita menjadi hamba Allah yang setia yaitu ‘…mereka harus mendengarkan-Ku…’ dan yang menjadi tauladan yaitu ‘…dan beriman kepada-Ku…’

Huzur bersabda kita beruntung karena kita bertemu lagi dengan bulan Ramadhan, dimana jalur menuju pengembangan kerohanian terbuka dengan lebar. Mereka yang memperoleh gelar ‘hamba-hamba Ku’ di bulan Ramadhan ini sangatlah beruntung.  Hadhrat Masih Mau’ud a.s bersabda:  ‘Bulan ini adalah saat yang tepat untuk menerangi cahaya hati’. Huzur berkata apa yang membuat Ramadhan menjadi bulan yang paling unggul? Dia menjelaskan bahwa hal itu dikarenakan bulan ini Tuhan telah menggabungkan dua ibadah sekaligus yaitu Puasa dan Shalat. Kita seharusnya meningkatkan Sholat kita selama Ramadan dengan khusuk dan ikhlas karena Allah mendengarkan kita sesuai dengan firman-Nya ‘…Saya adalah dekat…’. Puasa seharusnya diiringi dengan niat bahwa segala perubahan suci yang terjadi dalam kehidupan kita akan bertahan dan meningkatkan keimanan kita.  Semua ini dikarenakan hidup kita diabdikan untuk menjadi hamba Allah yang setia dan menunjukkan kepada dunia jalan yang benar.
Tuhan mengirim Hadhrat Masih Mau’ud a.s untuk melanjutkan tugas dari Hadhrat Muhammad saw.  Pertanyaan yang ditujukan kepada Hadhrat Muhammad saw oleh mereka yang ingin mencari Tuhan sama dengan pertanyaan yang mereka tujukan pada pengikut Hadhrat Masih Mau’ud a.s yang setia dan dia memberitahu mereka jalan menuju perubahan dan pendekatan diri pada Ilahi dan membentuk suatu Jema’at. Sekarang dunia menujukan pertanyaan pada jema’at yang beriman dan mereka hanya bisa memberi jawaban kebenaran ketika salah satu dari mereka beriman. Tuhan mendengar permohonan kita, ketika kita mempunyai tafsiran yang benar dari ‘…Saya adalah dekat…’  Huzur bersabda, sekarang ini telah terjadi kerusakan dimana-mana, baik itu di barat maupun di timur, Negara Islam maupun Negara Kristen.  Kecemasan telah melanda dunia ini. Huru-hara dan gangguan di Negara ini (Inggris) telah menjadi tabir bagi orang di sini.  Mereka menyadari bahwa hal ini tidak hanya Negara yang belum berkembang dimana keamanan tidak terjamin, tapi juga disini.  Huzur bersabda, bahwa hanya ada satu cara untuk mengatasi hal  ini yaitu menjadi hamba Allah. Tapi bagaimana hal ini bisa terlaksana? Tidak ada kekuatan yang kita miliki maupun seseorang yang memimpin orang ke jalan Tuhan dengan upaya duniawi. Satu-satunya cara yaitu dengan meminta pertolongan Tuhan melalui doa. Dimana pun seseorang membawa pesan damai kepada orang lain maka dia harus meningkatkan upayanya dengan berdoa.  Pengabulan doa dan pertolongan Tuhan diberikan bagi mereka yang meningkatkan keimanan.

Hadhrat Masih Mau’ud a.s telah memaparkan pada kita beragam macam cara dan usaha untuk pengabulan doa. Yang pertama yaitu Taqwa. Orang yang bertaqwa harus mempunyai rasa takut kepada Tuhan, kerendahan di hadapan-Nya dan, dan sadar bahwa Tuhan sedang mengawasinya, menahan segala tindakan yang tidak disenangi-Nya. Tubuh kita secara jasmani dan bagian-bagiannya, moral kita dan interaksi antar sesama makhluk ciptaan-Nya harus sesuai dengan apa yang diwahyukan-Nya. Inilah yang disebut Taqwa yang sebenarnya. mata, telinga, hidung, lidah, tangan, kaki dan semuanya harus digunakan untuk hal-hal yang menyenangkan-Nya. Hal ini bisa dilakukan ketika seseorang mempunyai keimanan kepada Tuhan. Hadhrat Masih Mau’ud a.s bersabda bahwa keimanan yang sempurna kepada Tuhan adalah sangat penting dalam pengabulan doa.  Keyakinan akan adanya Tuhan dan seluruh jagad raya beserta isinya yang kita ketahui maupun yang tidak diciptakan oleh Tuhan dan Dia adalah Tuhan semesta alam. Dia yang memberikan kehidupan, kematian dan menciptakan perubahan lewat doa dengan memasukkan kehidupan baru dalam kematian. Hadhrat Masih Mau’ud a.s bersabda ‘Tuhan mengabulkan doa orang yang dianggap-Nya lebih baik’

Syarat lain pengabulan doa yaitu tekad dan usaha. Seseorang harus mempunyai hati yang lembut dan rendah dengan meyakini bahwa Tuhan adalah satu-satunya tempat bertumpu dan mendengar semua doa; harus ada kecemasan dalam diri kita kalau-kalau pertolongan-Nya tidak diberikan.
Syarat yang berikutnya adalah sifat kerendahan diri yang membawa kita pada kedekatan pada Ilahi. Dalam sebuah syair Hadhrat Masih Mau’ud a.s yang secara luas diterjemahkan mengungkapkan sebagai berikut:
“Anggaplah dirimu sebagai makhluk yang paling rendah
Karena ini akan membawamu pada kedekatan Ilahi”
Huzur menjelaskan bahwa orang yang sombong tidak akan mempunyai kesempatan untuk mendapat kedekatan Ilahi. Dan orang yang tidak dekat dan menjalin hubungan dengan Tuhan tidak akan mendapat pengabulan doa.  Hadhrat Masih Mau’ud a.s bersabda bahwa doa yang penuh dengan kerendahan dan kecemasan mendapat pengabulan.  Hal ini juga tidak terlepas dari kemurahan Tuhan. Huzur menjelaskan bahwa ini berarti kita harus berdoa kepada Tuhan agar doa kita terkabul, dan dengan begitu doa kita pasti akan didengar oleh Allah SWT.  Hadhrat Masih Mau’ud a.s juga bersabda bahwa doa adalah sebuah pintu yang telah dibuka oleh Tuhan untuk kebaikan umat manusia. Ketika seseorang masuk kedalam pintu ini dengan hati yang sedih, maka dia disucikan oleh Tuhan dan perasaan rendah akan keagungan Tuhan dengan menjaganya dari perbuatan keji dan mungkar. Huzur bersabda bahwa orang yang beruntung yaitu orang yang mensucikan dirinya dengan bersedih dan menyesal dan didekatkan pada Tuhan. Bagaimanapun, untuk mencapai keadaan seperti ini, mereka harus berikhtiar dan berada pada jalan Allah. Inilah aturan dari Syariah.
Syarat  berikutnya  dari pengabulan doa yaitu memenuhi kewajiban kepada Tuhan dan sesama manusia.  Hadhrat Masih Mau’ud a.s  bersabda, “penuhilah kewajiban kepada Allah dan sesama manusia.” Beliau juga bersabda bahwa Tuhan Maha Pengasih bagi orang yang mempunyai rasa takut pada-Nya ketika dalam keadaan tenang dan bahagia seakan-akan dia menghadapi masalah, dan Tuhan tidak meninggalkan mereka yang selalu ingat pada-Nya.  Beliau bersabda bahwa dalam pengabulan doa penting bagi mereka untuk memperbaiki akhlak.  Jika mereka tidak berusaha dan melanggar aturan-aturan Allah; maka doa mereka tidak diterima. Beliau bersabda bahwa kita harus menanamkan Keagungan Tuhan di dalam hati kita dan mengingat kebesaran-Nya . Huzur menjelaskan bahwa perintah-perintah Allah tertulis dalam Al-Qur’an Suci beratus-ratus kali, dan Hadhrat Masih Mau’ud a.s bersabda bahwa kita harus patuh terhadap Perintah-Perintah yang ada di Qur’an.  Beliau bersabda “sembahlah Allah karena sang Pencipta yang berhak dan patut untuk disembah”

Huzur berdoa semoga kita memahami makna bulan Ramadhan ini dan memperoleh rahmat dari Allah Maha Pemberi. Menelusuri Ramadhan dengan pengabulan doa, patuh terhadap semua perintah, meningkatkan iman dan mendapat petunjuk dari Allah membuktikan bahwa Allah senantiasa memberikan rahmat dan menyelamatkan makhluk-Nya dari masalah dan penderitaan. Bagaimana pun, orang juga perlu menjalin hubungan dengan orang-orang shaleh dan memahami ajaran yang disampaikan oleh mereka sehingga banyak yang menjadi ‘Ibaadur Rahman dan hasilnya dunia ini akan tampak sebagaimana surga.  Mendengar panggilan zaman, menerimanya dan bersemangat pada seruan Tuhan untuk menjadi hamba-Nya yang setia, merekalah yang doanya memperoleh pengabulan, yang membuat perbaikan dalam dirinya, dan mereka yang peduli terhadap sesama berusaha dan menyelamatkan dari teguran Tuhan.  Bulan Ramadhan telah datang untuk melatih diri kita, meningkatkan keimanan, dan menjaganya. Tidak ada cara atau alat apa pun yang dapat menyelamatkan dunia dari kekacauan kecuali doa.  Huzur bersabda bahwa sepanjang doa yang kita panjatkan untuk diri dan generasi penerus kita, kita juga harus berdoa untuk keselamatan dunia dari kehancuran.

Janganlah kita berputus asa karena Tuhan mendengar semua doa. Yang terpenting adalah harapan kita tidak sirna. Hadhrat Masih Mau’ud a.s  memaparkan kepada kita tentang kemajuan Jema’at akan tiba ketika slogan Hadhrat Muhammad saw,  di tegakkan diselurruh dunia dan mayoritas umat manusia menjadi hamba-hamba Allah yang mendapat Petunjuk.  Huzur bersabda bahwa dia akan mengingatkan kita untuk tidak lupa berdoa lagi karena Tuhan memasukkan kita ke dalam orang-orang yang dalam petunjuk-Nya dan hamba-hamba-Nya yang setia.  Semoga Allah memberikan rahmat-Nya dalam mencari berkah yang ada di bulan Ramadhan ini.
Selanjutnya Huzur menganjurkan doa untuk dua pemakaman orang Ahmadi di Absentia
Subedar Raja Muhamma Mirza Khan sahib meninggal di Rabwah pada tanggal 4 Agustus di usianya yang ke 90.  Dia dulu seorang tentara dan mengabdi di WWII.  Kemudian, dia ke Qadian dan mengabdi pada Hadhrat Muslih Mau’ud r.a.  Dia adalah hamba yang setia, sosok orang yang bersyukur rajin dan semangat dalam bertabligh dan mempunyai hubungan yang erat dalam Khilafat.  Semoga Allah mengangkat derajatnya.
Ameena Begum sahiba meninggal di Rabwah pada 7 Agustus. Beliau merupakan salah satu penduduk awal di Rabwah yang pindah ke Qadian.  Dia mempunyai hubungan yang tulus dengan Khilafat, mengabdi di Lajna dan bertanggung jawab.  Beliau mempunyai hubungan baik dengan para tetangganya dan merupakan seroang Musiah.  Idris

About these ads