Tags

, , , , , , , , , , , , , ,

Medan, (Mubarak).  Senin (25/06), kira-kira pukul 09.15 WIB kami berenam yang terdiri dari Mln. Murtiyono Yusuf Ismail selaku Mubwil Sumut Barat, Mln. Surya Ahmadi  muballigh jemaat Namorambe, Mln. Sattar muballigh jemaat Berastagi dan tiga orang Lajnah tiba di sebuah Restourant Koki Sunda Jln. Hasanuddin No.1 Medan, dalam rangka menghardiri undangan seminar yang diselenggarakan oleh Aliansi Sumut Bersatu bekerjasama dengan KIPPAS dan didukung oleh Yayasan Tifa Jakarta. Kali ini tema yang diangkat ialah “Jurnalisme Narrative Intolerance Dalam Liputan Isu Pluralisme”  yang mengangkat studi kasus berita penurunan Patung Amithaba di Tanjung Balai Sumut.

 

Sebagai informasi bahwa polemik keberadaan patung Amithaba Vihara Tri Ratna kota  Tanjung Balai mulai muncul pada tanggal 30 Mei 2010. Sekelompok ormas islam di kota itu mendesak agar patung Amithaba diturunkan dari atas Vihara tersebut yang sudah dibangun dan diresmikan oleh wali kota Tanjung Balai pada bulan November 2009. Desakan disampaikan melalui DPRD dan pemerintah Kota Tanjung Balai karena dinilai keberadaan patung itu sebagai berhala dan merusak citra kota Tanjung Balai sebagi kota Islami. Sehingga oleh Walikota yang sama patung itu pun diturunkan beberapa bulan yang lalu.

Acara dibuka oleh Veriyanto yang akrab dipanggil Bang Very sebagai Direktur Aliansi Sumut Bersatu untuk menyampaikan maksud dan tujuan dilakukannya seminar ini. Selanjutnya acara dimulai oleh narasumber pertama Pamilianna Pardede Analis Media dari KIPPAS yang dalam majalah KUPAS edisi bln April 2011 ini juga memuat 20 halaman  berita khusus tentang Ahmadiyah terkait peristiwa Cikeusik dan dibagikan kepada seluruh peserta seminar. Beliau mempresentasikan hasil penelitiannya dari lima media surat kabar sebagai sample yang dianggap familiar di Sumut yang ikut memberitakan penurunan patung Amithaba tersebut. Adapun kelima media tersebut yaitu harian Waspada, Tribun, Berita sore, Medan Bisnis, dan Sinar Indonesia Baru. Dari hasil penelitiannya terbukti bahwa sejumlah media dalam memberitakan kasus tersebut sangat tidak berimbang. Sebagai contoh harian Waspada lebih dominan menampilkan narasumber dari organisasi Islam seperti FKUB, FPI Tanjung Balai, ketua komisi A DPRD, Gerakan Islam Bersatu (GIB), aktivis LSM yang pro penurunan dan Pemuka Agama Tanjung Balai. Seluruh narasumber yang ditampilkan ini adalah pihak-pihak yang menyetujui penurunan patung Budha Amithabaa. Sedangkan narasumber dari pihak Vihara hanya diberi ruang yang sangat sedikit yaitu sekitar 1-3 alinea dari 10-13 porsi alinea pemberitaan surat kabar ini. Sehingga  dari 7 berita dengan total 51 alenia, 45 alenia pro penurunan dan hanya 6 alenia yang diambil dari pihak Vihara.

Acara selanjutnya disampaikan oleh narasumber ke 2 yaitu ibu Aufrida Wisni Warastri seorang jurnalis harian kompas Medan yang menanggapi hasil penelitian dari KIPPAS tersebut. Beliau mengatakan bahwa pada hakikatnya wartawan sebagai jurnalis terikat oleh aturan-aturan yang disebut kode etik jurnalistik. Sebagai contoh di dalam salah satu sembilan elemen jurnalisme poin pertama menyebutkan “kewajiban pertama jurnalisme adalah pada kebenaran”.  Pada pasal 1 juga disebutkan “Wartawan Indonesia bersikap independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dan tidak beritikad buruk”.  Dengan adanya panduan tersebut seharusnya menjadikan media bersikap idealis dan independen. Wartawan yang akrab disapa mbak Wisni ini walaupun medianya tidak diteliti oleh KiPPAS namun beliau tidak memungkiri bahwa selalu ada pertentang antara idealis dengan bisnis sehingga  pemberitaan yang dilakukan oleh media lokal di Sumut masih bias dan tidak berimbang.  Diakui juga bahwa Editor sangat berpengaruh dalam menentukan sebuah berita layak atau tidak layak untuk dimuat. Maka ketika wartawan apalagi editor belum selesai dengan problem pluralisme dan multikulturalisme yang menghidupi bangsa ini, mereka akan kerepotan menyajikan berita yang berimbang pada pembaca.

Selanjutnya acara dibuka dengan tanya jawab yang sudah tentu penanya akan banyak mengkritik narasumber pembicara kedua sebagai wartawan/ jurnalis yang menyimpulkan media sebagi kompor karena telah memprovokasi masyarakat dengan berita yang tidak berimbang. Salah satunya Mln. Surya Ahmadi muballigh jemaat Namorambe memaparkan bahwa apa yang dialami oleh umat Budha di kota Tanjung Balai, seperti itulah perlakuan media yang selama ini dialami oleh jemaat Ahmadiyah khususnya di Indonesia. Banyangkan 5i alinea dari 7 berita hanya 6 alinea dari sumber aslinya, lantas informasi apa yang kita peroleh dari seklumit berita tersebut?. Selanjutnya Mln. Surya Ahmadi juga melontarkan pertanyaan langsung kepada para peserta yang hadir disana “siapa diantara saudara-saudara yang mengetahui tentang Ahmadiyah langsung dari sumbernya? Tampak peserta tidak ada yang menjawab, lantas beliau melanjutkan “ saya yakin saudara-saudara disini hanya mengetahui informasi tentang jemaat Ahmadiyah hanya dari media yang porsi alineanya sangat-sanyat tidak berimbang yang isinya hanya berupa hujatan dan fitnahan yang memicu kebencian masyarakat muslim Itulah yang terjadi selama ini. Tampak tersindir seorang mahasiswi jurnalis bertanya setelah itu, “ Bang kalo Ahmadiyah di medan ini dimana aja bang…?

Senada dengan peserta lain yang juga seorang wartawan media Global Medan saudara Warsito, beliau memberikan tanggapan bahwa apa yang dipelajari dimasa pendidikan tiori jurnalistik sangat baik sekali, namun pengalaman dilapangan membuktikan bahwa tiori tersebut tidak berlaku ketika disusupi oleh berbagai kepentingan yang ujung-ujungnya lebih mengedepankan bisnis alias uang.

Lebih ekstrim lagi oleh seorang editor Nias Bangkit Bapak Girsang setelah beliau memberikan berbagai komentar yang menyudutkan media beliau mengatakan bahwa sejumlah berita di dalam media yang meliput dan membesar-besarkan sara merupakan berita sampah.  Yang seperti ini harusnya tidak usah naik cetak.

Pada sesi akhir tanya jawab Mubwil Sumut Barat Mln. Murtiyono Yusuf Ismail juga memberikan komentarnya, beliau mengatakan “ bagaimana pun tidak dapat di pungkiri, bahwa media pasti akan berpihak.  Tetapi dia tetap harus netral.  Untuk itu ada tiga elemen yang barang kali bisa menjadi kontrol pers. Pertama, Media harus profesional, dan membenahi diri dengan menyajikan berita-berita yang berdasar dan tidak profokatif dan mengembangkan wawasan toleransi.  Kedua, Bagi [pihak yang memang merasa tersudutkan oleh pemberitaan, maka diperluan pendekatan-pendekatan dan kesadaran kritis untuk kemudian dapat membangun komunikasi yang baik dengan para pelaku media.  Dan yang ketiga, adalah hendaknya masyarakat juga kritis terhadap pemberitaan-pemberitaan yang beredar di masyarakat.  Jika ditemukan suatu media sangat profokatif maka masyarakat dapat menghukum media itu sendiri, misalkan dengan cara memboikot untuk tidak membeli medianya dll.

Selanjutnya acara ditutup sampai pukul 12.30 dilanjutkan makan siang dengan menu khas Sunda pada kesempatan itu lah undangan dari Jemaat Ahmadiyah berkesempatan berbincang-bincang dengan narasumber, para peserta dan berkumpul dengan panitia hingga tidak terasa waktu menujukkan pukul 15.30. S. Ahmadi