Tags

, , , , , , , , , , , , , ,

Terjemahan Khutbah Jum’at Hadhrat Khalifatul Masih V ATBA

Di Masjid Baitul Futuh London, 19 Agustus 2011

http://www.alislam.org/friday-sermon/20110819.html#summary-tab

 


 

 

‘Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu lah kami meminta pertolongan’

 

Hadhrat Masih Mauud (as) bersabda bahwa doa itu harus sungguh-sungguh dan tulus. Beliau juga menyampaikan bahwa Salat menambah keimanan seseorang, hal duniawi dan melindungi seseorang dari perbuatan keji dan mungkar. Bagaimanapun juga, karunia tersebut didapat bukan dari usaha seseorang semata dalam Salat. Tapi juga karena karunia tersebut merupakan pertolongan dari Tuhan.

Huzur bersabda bahwa hal ini menimbulkan pertanyaan kepada kita tentang seperti apa doa dan Salat kita seharusnya? Hal-hal apa yang harus kita lakukan, pengaruh apa seharusnya sembahyang dan doa terjadi pada diri kita dan bagaimana sembahyang, doa dan Salat mendapat pengabulan? Jika kita dengan seksama mengerti bahwa menyembah Tuhan adalah tujuan dari penciptaan kita, maka kita akan mengabaikan yang lain dan berfokus pada pencapaian dari tujuan yang sangat penting ini. Hadhrat Masih Mauud (as) bersabda bahwa doa harus mempunyai kapasitas untuk menghasilkan doa yang tulus. Usaha yang sudah kita lakukan tidak bisa membawa pada tujuan dari penciptaan kita. Tuhan Maha Pengasih, tetapi dalam surah pertama Al-Qur’an Ia mengajarkan kita doa ‘Hanya kepada-Mu lah kami menyembah, dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan(1:5) dan menjadikannya wajib untuk dibaca dan diulang-ulang dalam lima waktu Salat wajib. Ketika doa ini dibaca dengan ketulusan, maka Tuhan memberikan jalan kepada orang tersebut untuk memperoleh tujuan mereka. Hal ini merupakan berkah Allah SWT untuk memberikan kita bulan Ramadan dan berfirman bahwa Dia sesungguhnya dekat, bahwa Dia mendengar setiap orang dan hamba-Nya yang berjalan diatas petunjuk-Nya dan melaksanakan perintah-Nya. Jika ada kesilapan dan kekurangan pasti berasal dari kita. Di era ini Allah menunjuk Imam Mahdi (as) untuk mengadakan perubahan. Dia turun sebagai seorang hamba yang sempurna untuk mengajarkan kita kembali tentang ajaran Islam yang sebenarnya.

Jika kita mencoba, memahami dan menjadikannya sebagai bagian dari hidup kita, doa yang telah diberikan dengan kedalaman dan keindahan arti oleh Masih Mauud (as) ‘Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan’ kepada kita , maka kita akan berusaha memenuhi kewajiban ubudiyyat kita (hamba Allah (swt)) kepada Allah (swt). Kita akan berusaha untuk mengokohkan keimanan kita dengan mematuhi segala perintah-Nya dan menjadi orang yang beriman.

Huzur menjelaskan beberapa penggalan tulisan dari Hadhrat Masih Mauud (as). Beliau menulis: ‘Allah, Tuhan Yang Maha Mulia dan Agung, membuat firman-Nya: hanya kepada-Mu kami menyembah; sebelum firman yang berikutnya: hanya kepada-Mu lah kami meminta pertolongan; sebagai pengingat dari keagungan Rahmaniyyat (maha pengasih) sebelum meminta permohonan. Para hamba Allah (swt) memulainya, seperti yang terdahulu, dengan: Tuhan, syukurku atas semua rahmat-Mu yang telah memberiku segalanya yang jauh sebelum aku memintanya, doa-doa, akhlakul karimah, ikhtiar dan pertolongan pada Tuhan Maha Pemberi (Rabubiyyat) dan Pengasih (Rahmaniyyat) yang mendahului permohonan dari para pemohon. Sekarang saya memohon kepada-Mu untuk memberiku kekuatan, akhlakul karimah, kemakmuran, kesuksesan dan tujuan yang hanya ada pada permohonan doa dan meminta pertolongan, karena hanya Engkaulah Maha Pemberi segala sesuatu.’ [catatan Qur’an vol1, hal. 191]

Huzur menjelaskan bahwa ketika seseorang berdoa dengan khusuk dan tulus Allah telah memberikan sifat dari Rahmaniyyat-Nya, ini adalah langkah awal untuk menyembah dan menjadi hamba-Nya yang setia. Ketika derajat ini diperoleh, maka akan ada peningkatan untuk berbakti dan orang tersebut mencoba untuk memperoleh derajat bagi orang-orang yang Allah pilih untuk menjadi hamba-Nya. Mereka ingin usaha yang lebih dan pengembangan ruhani, tapi mereka sadar bahwa hal ini tidak bisa tercapai tanpa pertolongan-Nya. Hal ini membuka lebar pintu dan tahap peningkatan derajat tercapai. Ini adalah titik awal dan esensi yang seharusnya di amalkan ketika memanjatkan doa: hanya kepada-Mu lah kami menyembah, dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan.’

Hadhrat Masih Mauud (as) menjelaskan dengan detail mengapa kita harus fokus dan menelaah doa ini. Beliau bersabda: Ayat ini menghendaki adanya apresiasi rasa syukur atas segala rahmat yang telah diberikan, keteguhan hati akan permohonan yang sangat penting dan keinginan pada segala sesuatu yang sempurna dan unggul agar para hamba-Nya tetap bersyukur. Ayat ini juga mengisyaratkan untuk tidak bertumpu dan memohon pada orang lain, akan tetapi pada Allah Yang Maha Suci dalam pengharapan dan keinginan, terus memohon dan berdoa dalam kerendahan hati dengan memanjatkan puiian-pujian untuk-Nya, dalam keadaan takut dan berharap, bagaikan anak yang menyusui dalam buaian pengasuhnya, mati pada sisa penciptaan dan segala sesuatu yang ada di bumi.’ [catatan Qur’an vol1, hal. 191]

Huzur bersabda bahwa ketika seseorang memahami bahwa hanya Tuhan yang memiliki semua kekuatan dan dia tidak ada apa-apanya dihadapan Allah (swt), orang tersebut seharusnya merendahkan diri dihadapan-Nya. Dia juga seharusnya memberi perbandingan jarak pada apa-apa yang bersifat dan berkaitan dengan duniawi. Orang tersebut tidak boleh bertumpu pada kekuatan orang lain dan juga pada kekuatan dunia. Kemudian dia akan memanjatkan doa dengan tulus ‘Hanya kepada-Mu lah kami menyembah dan hanya kepada-Mu lah kami meminta pertolongan’.

Hadhrat Masih Mauud (as) menulis:

‘Ayat ini juga menghendaki pengakuan dan pemahaman bahwa kita sebenarnya lemah dan tidak mampu memikul kewajiban-kewajiban sebagai hamba-Nya tanpa pertolongan-Nya dan hanya bisa bergerak atas bantuan-Nya dan merindukan-Nya bagaikan ibu yang sedang berduka atas kematian anaknya dan bagaikan para kekasih yang sedang jatuh cinta.’ [catatan Qur’an vol1, hal. 191]

Penjelasan lebih detail tentang ayat ini, beliau bersabda:

‘Ayat ini menganjurkan kita untuk tidak sombong dan takabbur,berserah diri kepada Allah Yang Maha Kuasa ketika dirundung masalah dan kesukaran yang bertubi-tubi dan bergaul dengan orang-orang yang merendahkan diri seperti yang di firmankan Tuhan: Wahai hamba-hamba-Ku, bersatulah dalam mencari kekuatan dari-Ku. Jangan biarkan masa muda membawa kita pada ketakabburan, tidak juga membiarkan masa tua kita bergantung pada bawahan kita, tidak juga orang  bijak merasa terlalu bangga atas pengetahuannya tidak juga pada siswa yang percaya pada kemampuannya, ketajaman pemahamannya, atau ketekunannya, tidak juga membiarkan penerima wahyu Ilahi bergantung pada inspirasi, pendapat dan semangat doa-doanya. Allah melakukan apa pun yang Dia kehendaki, menolak mereka yang Dia kehendaki dan menerima orang-orang pilihan yang Dia kehendaki.’

‘Hanya kepada-Mu lah kami meminta pertolongan; memperingati bahaya yang timbul dari sifat jahat dari dorongan ego jahat yang menjauhkan kita dari akhlak mulia seperti onta betina yang tenang pada jokinya, atau seperti binatang reptile yang ganas yang melahap korbannya yang tidak berdaya karena racunnya menjalar, atau bagaikan singa yang tidak meleset ketika menerkam. Tidak ada daya, kekuatan, upaya dan zat kecuali dari pertolongan Allah SWT untuk mengusir Setan dari diri kita.’ [catatan Qur’an vol1, hal. 192]

Huzur bersabda bahwa seseorang yang sadar bahwa Nafsu Amarrah (diri yang dihasut kepada keburukan) atau dorongan ego jahat membawa seseorang untuk berbuat jahat dan orang tersebut harus melindungi dirinya, tapi juga ia sadar bahwa perlindungan tidak bisa didapat sepenuhnya dari dirinya sendiri. Allah sendiri yang menyelamatkan manusia dari godaan Setan. Seseorang harus berdoa meminta perlindungan dengan kerendahan hati. Ketika mereka yang telah menanamkan cinta pada Allah (swt) terus memohon dengan kerendahan diri kepada-Nya harus bagaimana lagi orang bisa berupaya untuk mendapat perlindungan-Nya? sebagai contoh doa Hadhrat Yusuf (as) seperti yang telah tertulis di Al-Qur’an: ‘Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu mengajak pada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’ (12:54). Pola pikir seperti itulah yang sesungguhnya mendapat keuntungan dari doa ‘Hanya kepada-Mu lah kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan’.

Hadhrat Masih Mauud (as) menjelaskan lebih detail:

‘Ada beberapa hikmah yang diperoleh dengan penempatan ayat: Hanya kepada-Mu kami menyembah; sebelum ayat: Hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan; yang kita panjatkan  untuk mendapat makrifat bagi mereka yang sangat suka dengan ayat-ayat surat Al-Fatihah, ketimbang dengan musik gitar, dan larut kedalam ayat tersebut seperti para pengikut yang setia. Allah mengajarkan para hamba-Nya doa yang merupakan sumber kebahagiaan bagi mereka dan berfirman: Wahai para hamba-Ku, memohonlah pada-Ku dengan kerendahan diri dan kerendahan jiwa ruhani: Tuhan kami, hanya kepada-Mu lah kami menyembah, tapi kami harus berjuang dan berjibaku dengan ketidak ikhlasan, penyesalan, pengabaian, hasutan Setan, kebingungan, hayalan, pandangan gelap bagaikan air banjir berlumpur, bagaikan orang yang mencari bahan bakar dalam kegelapan kita mengikuti jalan tanpa arah dan kita tidak tetap teguh pada keyakinan kita. Dalam situasi seperti ini kita hanya membutuhkan pertolongan Allah SWT. Kita memohon kepada-Nya untuk diberikan keteguhan, semangat, ketetapan hati dan keimanan dan ruhani yang berlimpah serta kebahagiaan dan cahaya untuk menghiasi hati kita dengan hiasan kebenaran dan cahaya, sehingga, dengan keagungan-Nya, kita bisa memperoleh keimanan yang hakiki, dan mendapat derajat tertinggi serta tiba di samudera kenyataan. [catatan Qur’an vol1, hal. 192-193]

Hadhrat masih Mauud (as) menganjurkan kita untuk memperhatikan puncak ebudiyaat:

‘Dalam ayat: Hanya kepada-Mu lah kami menyembah; Allah, Yang Maha Tinggi, menhendaki para hamba-Nya untuk bersungguh-sungguh dalam menjalankan perintah-Nya, dengan upaya dan semangat yang membara, teguh, senantiasa taat pada panggilan-Nya, dengan: Tuhan, kami tidak merasa letih dalam perjuangan dan pengamalan perintah-perintah Mu untuk mendapatkan ridha-Mu; tapi kami mencari pertolongan dan perlindungan untuk melawan ketakabburan dan kesombongan dan memohon kepada-Mu untuk memberikan kami kekuatan yang membawa kami kepada petunjuk-Mu dan mendapatkan ridha-Mu.’ [catatan Qur’an vol1, hal. 193]

Huzur menambahkan bahwa jika doa tersebut ditujukan pada generasi berikutnya, keluarga dan jema’at, maka aliran tujuan pemikiran setiap orang akan berada pada arah yang sama dan akan mendapat rahmat Allah SWT serta memenuhi kewajiban satu sama lain.

Hadhrat Masih Mauud (as) menulis:

‘Ada poin yang harus diperhatikan dalam konteks ini. Seorang hamba berkata: Tuhan, kami telah menyembah-Mu, mengesakan-Mu dan tidak mencintai yang lain lebih kecuali Kamu dan kami yakin akan keberadaan dan zat-Mu.’

Dalam ayat ini Allah, Yang Maha Kuasa dan Mulia, telah menganjurkan tentang penggunaan kata orang pertama jamak, Dia menyampaikan bahwa doa ini adalah untuk semua dan tidak hanya untuk para pemohon. Allah menganjurkan agar umat Muslim untuk saling membantu, bersatu dan mencintai serta menghendaki bahwa dia seharusnya bisa merasakan dan meringankan beban saudaranya demi kesejahteraan mereka seperti dia merasakan bebannya sendiri dan memperhatikan dirinya serta berusaha untuk membantu saudara-saudaranya seperti ia memperhatikan dan membantu dirinya sendiri, tidak membedakan dirinya dengan orang lain, dan menjadi harapan bagi saudara-saudaranya, dengan segenap hati seperti yang telah Allah, Yang Maha Agung, perintahkan: Wahai hamba-Ku, saling memberilah kalian dengan hadiah dan doa bagaikan teman atau saudara yang saling memberi, dan panjatkanlah doa, alasan, dan tujuan kamu untuk semua orang, buatah ruang untuk tali persaudaraan diantara kamu dan menjadi saudara dan bapak serta anak dalam ikatan kasih sayang.’ [catatan Qur’an vol1, hal. 193-194]

Huzur bersabda bahwa dalam doa ‘Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan’ aspek perencanaan dan doa digabungkan. Seperti yang dijelaskan oleh Hadhrat Masih Mauud (as):

‘Penggabungan rencana dan doa ada dalam Islam. Itu lah sebab mengapa saya terus menganjurkan untuk berencana sebaik mungkin dan berdoa dengan tekun, untuk menghapuskan dosa dan kelalaian. Kedua aspek ini telah ditekankan pada surah pertama Al-Qur’anul karim, surah Fatiha, yang mana kita diperintahkan untuk berdoa: Hanya kepada-Mu lah kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memiinta pertolongan. Hanya kepada-Mu kami menyembah; menganjurkan kita untuk berusaha dan berada pada barisan pertama sehingga manusia melakukan usaha yang tepat yang berhubungan dengan alat dan perencanaan yang diperlukan, tapi juga di waktu yang bersamaan, kita tidak mengabaikan doa; kenyataannya, sebagian orang terus berusaha tanpa berdoa. Ketika orang mukmin berkata: hanya kepada-Mu kami menyembah, ayat itu menjelaskan bahwa dia tidak punya kapasitas atau kemampuan untuk menyembah Allah, Yang Maha Agung, kecuali dari karunia dan pertolongan-Nya. Oleh sebab itu dia segera berdoa: Hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan. Ini lah poin yang penting yang hanya diapresiasikan oleh agama Islam. [catatan Qur’an vol1, hal. 194-195]

Beliau juga menuliskan:

‘Orang mukmin menggunakan kedua aspek dalam berdoa dan berusaha. Dia berencana dan berusaha dengan sebaiknya dan kemudian menyerahkan keputusan di tangan Tuhan sambil berdoa. Ini lah ajaran yang tersurat dalam surah pertama Al-Qur’anul karim; Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan. Orang yang tidak menggunakan kemampuannya (berusaha) tidak hanya mennjadikan kedua aspek tersebut tidak berguna akan tetapi juga melakukan dosa [catatan Qur’an vol1, hal. 204-205]

‘Manusia pada dasarnya cenderung untuk berbuat kebaikan. Oleh karena itu, dia membutuhkan pertolongan Ilahi. Itulah mengapa Tuhan telah memerintahkan pengucapan surah Fatihah secara berulang-ulang dalam lima Salat wajib. Didalamnya kita meyakini: Hanya kepada-Mu kami menyembah; dan juga hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan. Ayat ini menyampaikan bahwa dalam setiap usaha, manusia harus menggunakan kekuatan dan kapasitasnya dan berencana serta bekerja keras. Ini lah tujuan dari: Kami menyembah. Seseorang yang mengabdikan dirinya untuk berdoa tapi tidak dibarengi dengan usaha, tidak akan mencapai tujuannya. Jika seorang petani telah menyemaikan biji, kemudian membiarkannya saja, bagaimana mungkin dia mengharapkan panen yang bagus? Ini lah cara Allah (swt). Dia yang menyemaikan biji kemudian berdoa tidak melakukan apa-apa sama saja tidak akan mendapat apa-apa juga.’ [catatan Qur’an vol1, hal. 205]

Huzur bersabda bahwa doa seharusnya dipanjatkan dengan kesungguhan karena kita tidak tahu kapan pengabulan doa tiba, saat doa diterima pada waktu yang tepat, Hadhrat Masih Mauud (as) bersabda bahwa Tuhan menjadi Penolong bagi mereka yang terus berdoa pada-Nya dengan kerendahan hati: ‘Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan’, dengan pikiran bahwa Tuhan akan menerima doa dari kerendahan hati mereka. Beliau juga bersabda bahwa harus diingat tentang permohonan pertolongan yang merupakan hak Tuhan untuk memberikan kepada siapapun, oleh sebab itu doa ‘Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan’ telah diajarkan dalam Al-Qur’an. Huzur bersabda bahwa ini adalah poin yang seharusnya dipahami. Huzur teringat dengan peristiwa seorang sahabat Hadhrat Masih Mauud (as) yang sedang melaksanakan Salat nafal di mesjid Aqsa, Qadian dengan waktu yang cukup lama. Karena penasaran apa yang sedang beliau doakan, seseorang mendatanginya dan sambil mencoba mendengar, dia mendengar beliau dengan lembut dan berulang-ulang mengucapkan doa ‘Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan’ selama sekitar 15 menit. Itu merupakan pengalaman rohani para sahabat bersama Hadhrat Masih Mauud (as). Huzur bersabda tiap mukmin seharusnya mencoba dan menggapai pengalaman, persepsi dan ruhani ini yang dapat membantu orang untuk menjalankan tugasnya sebagai ebudiyyat. Beliau bersabda:

‘Dalam ayat: Tunjukilah kami jalan yang lurus; ada keinginan untuk berdoa dengan pemahaman yang hakiki; seakan-akan Tuhan yang mengajarkan kita dengan mendengar seruan-Nya sehingga dia akan menunjukkan sifat-sifat-Nya kepada kita karena menjadikan kita diantara orang-orang yang bersyukur.’ [catatan Al-Qur’anul karim Vol I, hal. 281]

Huzur bersabda bahwa kita seharusnya berdoa dengan mengingat sifat-sifat-Nya atau sebaliknya doa kita bagaikan ucapan burung beo semata. Huzur bersabda para sahabat Hadhrat Rasulullah (saw) mendapat pengalaman ruhani seperti yang dialami para sahabat Hadhrat Masih Mauud (as) dan sampai sekarang, ada beberapa orang di Jema’at yang mengalami pengalaman ruhani seperti ini.

Hadhrat Masih Mauud (as) bersabda penghalang terbesar dari keadaan ruhani yang tinggi adalah kemunafikan yang melahap akhlakul karimah kita, dan kesombongan yang merupakan perilaku paling buruk serta penyesatan yang mengajak manusia jauh dari petunjuk. Inilah mengapa sifat pengasihnya diberikan pada hamba-Nya yang lemah, yang cenderung untuk terjerumus kedalam dosa, dan juga mereka yang berusaha berjalan diatas petunjjuk-Nya, Tuhan telah menunjuk pengobat dari penyakit seperti ini. Beliau menganjurkan kepada umatnya untuk memanjatkan doa‘Hanya kepada-Mu kami menyembah’ sehingga mereka bisa membuang penyakit kemunafikan. Dan beliau juga menganjurkan umatnya untuk memanjatkan doa ‘Hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan’ sehingga mereka diselamatkan dari penyakit takabbur dan sombong. Lalu beliau menyuruh untuk memanjatkan doa ‘Bimbinglah kami’ sehingga mereka terhindar dari kesesatan dan nafsu. Beliau juga menambahkan bahwa Tuhan tidak bisa dijadikan alat untuk keselamatan kita sampai kita benar-benar mengamalkan sifat rendah diri, daya dan upaya dalam memahami petunjuk-Nya.

Hadhrat Masih Mauud (as) bersabda bahwa sembahyang dan doa yang mendapat pengabulan itu tergantung pada beberapa aspek. Yaitu seseorang harus menerapkan sifat rendah diri yang sungguh-sungguh dihadapan Allah (swt) dan memanjatkan puji-pujian bagi-Nya atas berkah dan rahmat yang telah diberikan. Dan lebih mencintai-Nya dari yang lain, seseorang harus memberikan rasa cinta yang hakiki pada-Nya melebihi apapun termasuk yang ada di dalam Surga-Nya, menjauhkan diri dari Syaitan. Huzur bersabda dengan persepsi seperti ini seseorang akan memiliki konsep yang hakiki dari ayat ‘Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan’ dan akan menjadi ebd (hamba) Allah (swt).

Hadhrat Masih Mauud (as) telah menjelaskan bahwa doa ‘Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan’ menandakan sembahyang yang jelas dan permintaan pengalaman ruhani. Didalam dua aspek tersebut sifat kerendahan diri manusia tampak nyata. Beliau juga menambahkan bahwa manusia mengaku menyembah Tuhan akan tetapi apakah semabahyang tersebut sama dengan menguatkan diri dan gerakan solat atau menghitung tasbih? Beliau menjelaskan bahwa sembahyang yang sebenarnya yaitu ketika kita mencurahkan cinta kepada Allah (swt) yang terjadi dalam proses. Yang paling penting, harus adanya keimanan yang hakiki akan keberadaan Tuhan, dan juga kesadaran akan berkah dan karunia-Nya yang tak terhitung jumlahnya. Kita harus mencurahkan cinta kita pada Allah (swt) semata sehingga cinta-Nya meresap kedalam kalbu orang tersebut dan selalu tampak melalui wajahnya. Kita juga harus memiliki pemahaman tentang keagungan Tuhan bahwa tidak ada satu pun di dunia ini yang dapat menandingi-Nya. Kita juga harus takut pada-Nya dan mencari ridha-Nya serta menjadikan keberadaan-Nya sebagai tempat menenangkan kalbu. Itu lah yang kita sebut sembahyang yang sesungguhnya. Akan tetapi keadaan seperti ini tidak bisa dimunculkan dalam diri kita tanpa karunia-Nya; oleh sebab itu Tuhan telah mengajarkan doa ‘Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan’.

Ikhtisar penting dari Salat, Hadhrat Masih Mauud (as) bersabda bahwa inti dari pencapaian sembahyang yaitu kita harus merasakan seakan-akan Tuhan sedang mengawasi kita atau kita sedang melihat-Nya dan kita harus terbebas dari perbuatan bohong dan sirik (menduakan Tuhan). Kita harus sadar sifat Rububiyyat Tuhan dan keagungan-Nya,  berdoa dengan kerendahan diri, meminta pengampunan sebanyak-banyaknya, mengakui dan menyesali tentang kelemahan yang ada dalam diri kita sehingga kita dibersihkan dari dosa, menanamkan jalinan komunikasi yang kuat dengan Tuhan, dan larut dalam cinta-Nya. Ikhtisar inti dari Salat dan semuanya ini tekandung dalam surah Fatihah. Kita mengakui kelemahan kita dalam doa ‘Hanya kepada-Mu kami menyembah’. Permohonan dijadikan untuk pertolongan, doa dijadikan untuk mengikuti jejak para Nabi dan Rasul. Dengan kata lain, permohonan dibuat untuk memperoleh berkah yang diberikan kepada Nabi dan perlindungan dijauhkan dari mereka yang menolak kedatangan Nabi dan lari dari petunjuk.

Penjelasan mengenai penghapusan dosa, Hadhrat Masih Mauud (as) bersabda bahwa berkah yang paling mulia adalah dihapuskan dari segala dosa. Berkah ini bisa diperoleh dengan perencanaan dan doa. Doa ‘Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan’ menunjukkan bahwa kita menggunakan kekuatan dan kapasitaas yang diberikan Tuhan dan menyerahkan selebihnya kepada Tuhan. Orang bodoh adalah mereka yang tidak menggunakan kemampuan mereka dan hanya berharap pertolongan Tuhan. Hadhrat Masih Mauud (as) bersabda ‘jika seseorang berusaha dan berdoa, Tuhan akan menyelamatkannya ketika ia jatuh.’

Penjelasan tentang dua sifat Ilahi tersebut, Hadhrat Masih Mauud (as) bersabda:

‘Al-Qur’an menyebutkan dua sifat Allah (swt) Al-Hayy, Maha Kekal dan Al-Qayyum, Maha Pemberi Kehidupan. Al-Hayy berarti memberi dan mencabut kehidupan dan Al-Qayyum berarti Memelihara dan Membantu untuk tetap bertahan hidup. Kehidupan zahir dan ruhani dari segala sesuatu bergantung pada dua sifat Ilahi ini. Sifat Hayy (Kekal) menuntut bahwa Dia-lah yang patut dipuja seperti yang tertulis di surah Fatihah: Hanya kepada-Mu kami menyembah; dan Al-Qayyum menuntut bahwa kita harus mencari dan meminta bantuan-Nya, seperti yang tertera di: Hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan.’ [catatan Al-Qur’anul karim Vol I, hal. 208]

Huzur bersabda bahwa kita bisa memenuhi kebutuhan kita, baik kebutuhan dunia maupun ruhani, dengan menjadi hamba Allah yang setia dan Salat merupakan inti dari sembahyang. Hadhrat Masih Mauud (as) bersabda:

‘Sembahyang yang paling mulia yaitu tetap melakukan Salat lima waktu di awal waktu dan berusaha dengan bersungguh-sungguh untuk memperoleh berkah-Nya, dengan patuh terhadap kewajiban dan ikhlas. Karena Salat adalah puncak yang membawa para hamba kepada sang Khalik, membawanya ke tempat yang tidak bisa digapainya dengan menunggang yang larinya kencang sekalipun. Tujuan dari Salat tidak bisa dicapai dengan anak panah, dan rahasiannya tidak bisa dijabarkan dengan pena. Barangsiapa yang menjadikan kewajiban ini pada dirinya yang berasal dari kebenaran akan mengungkap tabir kenyataan, bertemu dengan sang Kekasih yang tersembunyi dibalik layar yang tidak dapat dilihat dan dijauhkan dari keraguan dan ketidakpastian. Hari-harinya menjadi cerah, kata-katanya bersinar bagaikan mutiara, wajahnya menjadi terang bagaikan bulan purnama dan derajatnya dinaikkan. Barangsiapa menjadikan dirinya rendah dihadapan Allah dalam Salat akan menemukan bahwa Tuhan menjadikan raja-raja rendah dihadapan-Nya dan menjadikan budak sebagai tuan.’ [catatan Al’Qur’anul karim Vol I, hal. 202]

Huzur bersabda tidak diragukan lagi bahwa Salat adalah sembahyang dari bentuk pengabdian yang paling tinggi, dan membawa manusia dekat pada-Nya, akan tetapi sebagian orang berpendapat tidak mendapat kenikmatan apapun dari Salat. Hadhrat Masih Mauud (as) bersabda bahwa dalam hal ini sebagian orang berkata mereka tidak mendapat kebahagiaan dari Salat. Yang seharusnya mereka lakukan yaitu berulang-ulang mengucapkan ‘Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan’ dan meminta perlindungan untuk dijauhkan dari Syaitan. Mereka yang melaksanakan ini secara terus menerus akan mendapatkan tujuan mereka. Harus ada keteguhan dan kejujuran dalam doa mereka.

Huzur berdoa semoga Allah memberikan kita kekuatan untuk mengamalkan nasehat-nasehat Hadhrat Masih Mauud (as) dan termasuk kedalam golongan orang-orang yang teguh pendirian dan selalu dalam lindungan Allah (swt). Semoga kita mendapat berkah seutuhnya dibulan Ramadan ini. Huzur menganjurkan kita untuk terus menerus memanjatkan doa di bulan Ramadhan ini.  Idris