Tags

,

Posted by: dildaar80 on: 26 Mei 2011
In: ahmadiyah Comment!

Rate This

MENGGUGAT AHMADIYAH

Penulis : Dr. Muchlis M. Hanafi
Judul : Menggugat Ahmadiyah
Cetakan I : Rabi’ul Awwal 1432/Maret 2011
Tebal/ Ukuran : 116 + xxii halaman/ 13 x 20.5 cm
Jenis cetak : Soft Cover/ Bookpaper
ISBN : 978-979-90488-5-1
Harga : Rp26.000
Informasi : 021-7424373 dengan Lusy atau Carol.
Twitter : @LenteraHatiBook.
Penerbit : Lentera Hati Jl. Kertamukti No. 63 Pisangan, Ciputat, Tangerang 15419
Telp./Fax : (021) 7421913
Website : http://www.facebook.com/l/1d084qHGVsve7qddDaFLq0vcGMw/www.lenterahati.com
E-mail : info@lenterahati.com

Biografi Singkat Penulis
Dr. Mukhlis M. Hanafi, M.A. dilahirkan di Jakarta pada 18 Agustus 1971. Selepas “nyantri” di KMI Pondok Modern Gontor, Muchlis Hanafi kemudian memperdalam ilmunya dengan “nyantri” di Pesantren Tinggi Ilmu Fiqih Bangil (1989-1990) dan PP. Tahfizh al-Quran Sunan Pandanaran, Yogyakarta (1990-1992).

Selama tiga belas tahun (1992-2006), Muchlis Hanafi mematangkan studinya dalam bidang Tafsir Al-Quran di Universitas Al-Azhar, Kairo, Jurusan Tafsir dan Ilmu-ilmu Al-Quran. Meraih Magister pada tahun 2000 dengan tesis: Studi Kritik terhadap Tafsir Al-Khazin seputar penggunaan hadits-hadits dha’if (lemah) dan palsu serta kekeliruan lainnya dalam penafsiran. Dan pada 2006 merampungkan program doktoralnya dengan disertasi berjudul “Kitab Lawami’ Al-Burhan wa Qawathi’ Al-Bayan fi Ma’ani Al-Qur-an” karya Imam Al-Ma’iniy (w. 537 H) [Studi filologi yang meliputi editing naskah, kritik, komentar dan analisis metode penafsiran], dengan yudisium Summa Cum Laude. Disertasi ini direkomendasikan untuk dicetak atas biaya Universitas Al-Azhar agar dapat disertakan dalam pertukaran hasil riset antar perguruan tinggi di Mesir (cover muka bagian dalam).

Di samping mengajar di Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Institut Ilmu Al-Quran (IIQ) dan Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (PTIQ), Dr. Muchlis Hanafi juga bekerja sebagai Plt. Kepala Bidang Pengkajian Al-Quran Balitbang KementrianAgama RI, Manajer Program di Pusat Studi Al-Quran (PSQ) dan Konsultan Kerjasama Luar Negeri (Timur Tengah).
Sewaktu kuliah di Al-Azhar, Dr. Muchlis Hanafi ikut dalam tim yang menerjemahkan Tafsir Al-Muntakhab terbitan Kementrian Wakaf Mesir. Setelah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi Ensiklopedia Al-Quran “Kajian Kosa Kota” yang diterbitkan oleh Pusat Studi Al-Quran (PSQ) Jakarta di bawah pimpinan Prof. Dr. M. Quraish Shihab, M.A. dan Penerbit Lentera Hati. Sekarang beliau dipilih menjadi Ketua Tim Penyusun Tafsir Tematis Kementrian Agama RI, tahun 2007 dan 2008.

Di samping aktif di sejumlah lembaga sosial keagamaan, seperti Lembaga Dakwah NU (LDNU), Dr. Muchlis Hanafi juga aktif mengikuti seminar dan konferensi internasional, seperti Konferensi Dialog Antar-Mazhab di Doha, Qatar (2007 dan 2008), Konferensi Zakat ke 7 di Kuwait (2007) dan Konferensi Islam Internasional tentang Dialog di Mekkah (2008).

Komentar Penerbit

Gugatan atas keberadaan Jemaat Ahmadiyah telah bergulir menjadi isu nasional. Terlepas dari pro-kontra yang mengitarinya, bangunan argumentasi yang diformulasikan kelompok Ahmadiyah ini sepintas memang sangat berdasarkan dan meyakinkan. Bagi mereka yang tidak memiliki pijakan yang kokoh dan akses langsung ke sumber-sumber primer ajaran Islam, mungkin akan terpesona dan mengamini bahwa kedatangan nabi lain setelah Nabi Muhammadsaw dimungkinkan dalam Islam.

Benarkah Al-Quran memang memberi kemungkinan bagi munculnya nabi baru setelah Muhammadsaw, seperti yang disimpulkan kelompok Ahmadiyah dalam Tafsir mereka?

Buku ini membongkar kekeliruan-kekeliruan yang terdapat dalam Tafsir Ahmadiyah, utamanya penafsiran terhadap ayat-ayat kontroversial yaitu ayat-ayat yang digunakan Ahmadiyah untuk membenarkan kenabian Mirza Ghukam Ahmad. Bangunan argumentasi kelompok Ahmadiyah yang begitu memesona penampilannya, ternyata sangat rapuh jika didekati secara kritis!
Jika Anda masih bingung oleh kisruh seputar Ahmadiyah dan ingin tahu lebih banyak tentang pokok-pokok ajaran mereka yang diperselisihkan, buku ini merupakan rujukan yang sangat tepat dalam menjawab keingintahuan Anda. Buku ini juga cocok dibaca dan dikoleksi kalangan aktivis Muslim, pemerhati gerakan Islam dan siapa saja yang menaruh perhatian soal pemurnian ajaran Islam (cover bagian belakang).

Komentar Pembaca

Buku ini ini terdiri dari lima bagian: 1) Ahmadiyah dan Tafsir Al-Quran, 2) Nabi Muhammadsaw sebagai Khatam An-Nabiyyin, 3) Wafatnya Isa Al-Masih, 4) Kenabian Setelah Muhammadsaw dan 5) Sosok Mirza Ghulam Ahmad dalam Tafsir Jemaat Ahmadiyah.

Setelah saya membaca keseluruhan buku tersebut maka saya mengomentari sebagai berikut:

1. Buku ini ditulis oleh orang yang tepat. Hal ini dapat dibaca pada biografi singkat Penulis yang memiliki spesialisasi terhadap Tafsir Al-Quran. Hal ini diperkuat dengan kata pengantar oleh Prof. Dr. M. Quraish Shihab, M.A. (senior Penulis dalam bidang yang sama).

2. Buku ini menunjukkan bahwa Penulis memiliki tingkat etika yang tinggi. Buku lebih “sopan” dibandingkan buku-buku sejenis yang pernah diterbitkan. Hal ini dapat dilihat dari cara Penulis menyebut nama Pendiri Jemaat Ahmadiyah: Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad (atau hanya Mirza Ghulam Ahmad, nama asli Sang Pendiri). Berbeda dengan Penulis-penulis lain yang menggunakan nama “ejekan”: Qadiani, Mirzai atau nama lain yang bertendensi “merendahkan”.

3. Buku ini menunjukkan ketulusan Penulis. Hal ini dapat dilihat dari niat Penulis seperti yang diungkapkan oleh Penulis dan Dr. Quraish Shihab dalam “Pengantar”-nya, “Buku yang ada di tangan pembaca ini merupakan salah satu upaya mendialogkan penafsiran Jemaat Ahmadiyah yang dinilai menyimpang dari pokok-pokok ajaran Islam dalam bentuk tanggapan dan bantahan. Budaya dialog semacam ini perlu dikembangkan dalam menyikapi perbedaan dan penyimpangan dalam pemahaman keagamaan, dengan harapan mereka yang menyimpang dapat kembali kepada ajaran yang benar dengan penuh kesadaran. … dialog, bukan dengan pemaksaan apalgi kekerasan.” Pak Quraish juga berharap bahwa buku ini semoga bisa menjadi contoh tentang bagaimana seharusnya perbedaan pemahaman keagamaan disikapi dan dihadapi.

4. Buku ini mencermikan kejujuran sekaligus “kesederhanaan” Penulis. Hal ini dapat diketahui dari pernyataan Penulis bahwa buku ini fokus mencermati Al-Quran dengan Terjemahan dan Tafsir Singkat (terbitan Jemaat Ahmadiyah Indonesia) dan sedikit menyinggung penjelasan tafsir yang terdapat dalam Buku Putih (oleh penerbit yang sama).

Sayangnya, Penulis betul-betul “terfokus” pada kedua literatur tersebut. Memang, cara Penulis mengutip kedua literatur tersebut menunjukkan kejujuran tetapi hanya terfokus pada kedua literatur tersebut menunjukkan “kesederhanaan” Penulis. Mengingat begitu banyak literatur Ahmadiyah dan begitu mudah dan relatif murah untuk memperolehnya dari “tangan pertama”.

“Menyanggah” Gugatan

Melihat judul bukunya, jelas bahwa Penulis bermaksud menggugat pemahaman Ahmadiyah tentang Penafsiran Al-Quran. Dalam batas ini terkandung maksud bahwa Penulis masih mengakui status orang-orang Ahmadi sebagai Muslim. Namun demikian berkenaan dengan materi gugatan, mari kita bahas bab per bab (secara ringkas):

1. Ahmadiyah dan Tafsir Al-Quran
Berkenaan dengan metode penasiran Al-Quran, Penulis mengemukakan, “… dalam mengutip pendapat para ulama dari buku-buku tersebut ditemukan beberapa kutipan yang tidak tepat atau sempurna sehingga terkesan sekedar mencari pembenaran klaim tertentu yang sesungguhnya tidak terkandung dalam kutipan tersebut” (hlm. 8-9).

Penulis juga menjelaskan, “Selain menggunakan hadits, pandangan sahabat dan tabi’in yang menjadi sumber penafsiran dengan riwayat (tafsir bi al-ma’tsur), tafsir Ahmadiyah menggunakan pendekatan tafsir isyari yaitu sebuah penafsiran yang berusaha menangkap isyarat yang terkandung di balik lafal/zhahir ayat. Metode penafsiran ini banyak digunakan oleh kalangan sufi” (hlm. 10).

Pembaca berkomentar bahwa kalimat pertama (yang menyatakan ketidak-tepatan Ahmadiyah dalam metode tafsir) telah disanggah sendiri oleh kalimat kedua (yang mengemukakan dasar-dasar penafsiran Ahmadiyah yang merupakan dasar-dasar penafsiran standar para penafsir). Baca: Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an/Tafsir, Prof. Dr. T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy. 1994. Jakarta: Bulan Bintang, khususnya Bahagian V Bab Keempat; juga: Penafsiran Al-Qur’an dalam Perspektif Nabi Muhammad SAW, Dr. Muhammad Abdurrahman Muhammad. 1999. Bandung: Pustaka Setia. Khususnya Bab IV.

2. Nabi Muhammadsaw sebagai Khatam An-Nabiyyin

Penulis menyatakan pemahaman Ahmadiyah soal Khatam An-Nabiyyin “tidak tepat” meskipun Penulis telah mengetahui semua alasan telah dijelaskan Ahmadiyah berdasarkan Al-Quran dan Hadits dan pandangan ulama. Di mana menurut Shaikh Al-Islam Imam ibn Taimiyyah, “Cara yang paling benar untuk itu adalah menafsirkan Al-Quran dengan Al-Quran.” Lalu Shaikhul Islam melanjutkan, “Jika itu terlalu sulit untuk dilakukan maka hendaklah ditafsirkan dengan As-Sunnah sebab ia merupakan penjelasan terhadap Al-Quran.

Bahkan Imam Abu Abdillah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i: Setiap apa yang diputuskan oleh Rasulullahsaw adalah karena pemahamannya terhadap Al-Quran” (Pengantar Ilmu Tafsir, Shaikh Al-Islam Imam ibn Taimiyyah. 1989. Jakarta: Pustaka Panjimas. hlm. 64; baca juga: Bahtera Nuh, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. 1991. Bogor: Jemaat Ahmadiyah Indonesia. hlm. 40, 86-89).

3. Wafatnya Isa Al-Masih

Kekeliruan pandangan Jemaat Ahmadiyah di atas karena dibangun di atas premis yang keliru yaitu: Premis minor (muqaddimah shughra): Nabi Isa telah wafat dan tidak benar kalau beliau diangkat ke langit dalam keadaan hidup. Premis mayor (muqaddimah kubra): hadits-hadits yang berkenaan dengan turunnya Nabi Isa dipahami secara metafora atau dengan menakwilnya.

Kesimpulan (natijah): maksud diturunkannya Nabi Isa adalah diturunkannya seseorang yang serupa dengannya yaitu Mirza Ghulam Ahmad (hlm. 52).
Menurut Pembaca, menilai keliru pandangan Jemaat Ahmadiyah di atas karena dibangun di atas premis yang keliru, khususnya dalam “kewafatan Nabi Isa” sama dengan memandang keliru para ahli, ulama dan cendikiawan yang memiliki pandangan yang sama (bahwa Nabi Isaas telah wafat), seperti: Muhammad Asad (The Message of the Holy Qur’an), Rasheed Raza (Al-Manar vol. 5 hlm. 900-901), Mahmood Shaltoot (Al-Fatwa hlm. 52-75), Allama Mustafa Al-Maraaghi (Tafsir al-Maraghi hlm. 195), Prof. Abbas Mahmood (Life of Jesus hlm. 213), Sayyid Qutub (Fee Zilal-ul-Qur’an vol. 7 hlm. 66) dan banyak lagi ulama luar negeri.

Sedangkan ulama dalam negeri yang berpendapat Nabi Isaas telah wafat antara lain: Hamka (Tafsir Al-Azhar), Al-Haj Abdul Karim Amarullah (ayahanda Hamka dalam Al-Qoulush Shahih) dan Prof. Mahmud Yunus (Tafsir Al-Quranul Karim) [baca: Nabi Isa Al-Masih Kelahirannya di Bethlehem dan Kewafatannya di Kashmir, Ali Mukhayat MS. 2002. Tasikmalaya: EBK. Hlm. 89-91]. Demikiankah?

4. Kenabian Setelah Muhammadsaw dan 5. Sosok Mirza Ghulam Ahmad dalam Tafsir Jemaat Ahmadiyah.

Penulis menyatakan pemahaman Ahmadiyah seperti dalam bagian 4 dan 5 “tidak tepat” meskipun Penulis telah mengetahui semua alasan telah dijelaskan Ahmadiyah berdasarkan Al-Quran dan Hadits dan pandangan ulama.

Jadi masalahnya adalah pada pemahaman Penulis berbeda dengan pemahaman Pendiri Ahmadiyah. Bagaimana tidak? Karena dalam pandangan Ahmadiyah hal ini bermula dari sabda Yang Mulia Nabi Muhammadsaw bahwa “Demi Allah yang diri saya berada di tangan-Nya, sungguh, Isa bin Maryam benar-benar akan turun di antara kalian sebagai hakim penguasa yang adil, kemudian akan merusak salib, membunuh babi, menghabisi penerangan dan melimpahlah harta benda sehingga tidak ada seorang pun yang mau menerimanya dan satu kali sujud itu lebih baik daripada dunia seisinya” (HR Bukhari dan Muslim).

Dan dalam haditsnya yang panjang Nabi Muhammadsaw menjelaskan bahwa Nabi Isaas yang akan turun di akhir zaman itu dengan sebutan nabi, beliausaw bersabda, “Nabi Isa dan pengikut-pengikutnya terkepung, ….. Nabi Isa dan sahabatnya berdoa kepada Allah ….. Nabi Isa dan sahabat-sahabatnya datang di bumi itu ….. Nabi Isa dan sahabat-sahabatnya berdoa kepada Allah ….. (HR Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad dan Hakim). Banyak hadits senada, antara lain baca: Lampiran dari buku “Turunnya Isa bin Maryam pada Akhir Zaman. 1990. Jakarta: Haji Masagung. hlm. 58-117” (ada 68 hadits).
Makna ini ternyata juga diungkapkan dalam sebuah tanya-jawab Mu’tamar NU sebagai berikut, soal: “Bagaimana pendapat Mu’tamar tentang Nabi Isaas setelah turun kembali ke dunia. Apakah tetap sebagai nabi dan rosul? Padahal Nabi Muhammadsaw adalah nabi terakhir. Dan apakah madzhab empat itu akan tetap ada pada waktu itu?

Jawab: “Kita wajib berkeyakinan bahwa Nabi Isaas itu akan diturunkan kembali pada akhir zaman nanti sebagai nabi dan rosul yang melaksanakan syariat Nabi Muhammadsaw dan hal itu tidak berarti menghalangi Nabi Muhammadsaw sebagai nabi yang terakhir sebab Nabi Isaas hanya akan melaksanakan syariat Nabi Muhammadsaw. Sedang Madzhab empat pada waktu itu hapus (tidak berlaku). Baca: Kumpulan Masalah-masalah Diniyah dalam Mu’tamar ke 1 s/d 15. 1960. Semarang: Toha Putra. hlm. 34-35, khususnya pada Mu’tamar Nahdlatul ‘Ulama ke-III di Surabaya (12 Robiuts-Tsani 1347 – 28 September 1928).

Tinggal masalahnya adalah siapa orangnya, kapan dan di mana dia datang? Di sinilah terjadi perbedaan pendapat. Dalam hal berbeda pendapat, sikap terbaik yang diajarkan Al-Quran adalah, “Lakum diinukum wa liyadiin” (QS 109/Al-Kaafiruun: 6). Kata diin tidak hanya berarti agama tetapi juga berarti: 1) Kegagahperkasaan, kekuasaan, kemampuan, peradilan, pemaksaan, perbudakan dsb. 2) Ketaatan, penghambaan diri, pelayanan, pengekoran, penyerahan diri, terpengaruh, tertundukkan dsb. 3) Undang-ubdang, tatatertib, ideologi, aturan, tatakrama, adat-istiadat dsb. 4) Pembalasan, upah, peradilan, tindakan, pertanggungjawaban, perhitungan, tuntutan dsb. (Bagaimana Memahami Qur’an, Abul A’la Al-Maududi. 1981. Surabaya: Al-Ikhlas. Hlm. 118-123). Atau menurut H.A. Mukti Ali, “Agree in disagreement” (Setuju dalam perbedaan) [Ilmu Perbandingan Agama, Dialog, Dakwah dan Misi dalam Ilmu Perbandingan Agama di Indonesia dan Belanda, Burhanuddin Daya dan Herman Leonard Beck. 1992. Jakarta: INIS (Indonesian-Netherlands Coorperation in Islamic Studies)].

Kesimpulannya:

1) Secara aqidah, semua pemahaman Ahmadiyah beradasrkan Al-Quran, Hadits dan pendapat ulama. 2) Secara hukum, keberadaan Ahmadiyah di Indonesia diakui secara legal melalui Badan Hukum Menteri Kehakiman RI No. 5/23/13 Tgl. 13-3-1953. 3) Sebagai warga negara Republik Indonesia kita semua tunduk kepada hukum negara: UUD 1945 di mana dalam Pasal 27 ayat 1 dicantumkan, “Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya.” Selanjutnya, baca juga: Pasal 28-D ayat 1, Pasal 28-I ayat 1-2, Pasal 28-E ayat 1-3, Pasal 29 ayat 2 dan DUHAM (Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia).

Wassalam,
Ikatan Saudara (Lampung), 26-5-2011
Zafar Ahmad Khudori