Tags

, , , , , , , ,

Liburan sudah dekat. Tentunya ini yang membuat hati anak-anak senang dan tidak sabar bertemu liburan setelah mereka susah payah berperang melawan ujian belajar. Tak sedikit orang tua pun merasa senang karena segera akan melihat hasil belajar anak-anak mereka. Bagi yang anaknya mendapat hasil bagus pastinya perasaan bangga akan menghinggapinya.Bagi yang anaknya mendapat nilai biasa, yang pasti ekspresinya berbanding terbalik dengan orang tua yang pertama tadi.

Namun dalam kesempatan ini, penulis tidak akan membahas senang atau tidak senang anak-anak menunggu liburan atau orang tua menunggu hasil belajar anak-anak mereka, tetapi penulis ingin bercerita soal pengalaman penulis melihat dinamika anak-anak jaman sekarang dalam berinteraksi dengan dunia maya/internet.

Setidaknya ada tiga hal yang selalu membuat penulis gelisah:

Yang pertama, Ketika liburan tahun lalu penulis melihat anak-anak sekitar pukul 09.00 – 12.00 mereka banyak menghabiskan waktu ke warnet. Setelah itu sore harinya pukul 16.00 – 17.30 kembali ke warnet lagi. Terkadang kalau yang agak kecanduan pukul 20.00-21.30 mereka pergi lagi ke warnet. Penulis berfikir, Kalau mereka pergi ke warnet dengan rata-rata bermain selama 2 jam, dengan harga Rp 2.500;/jam saja berarti untuk waktu 2 jam mereka harus merogoh kocek Rp 5.000;. Maka dengan intensitas 2 x selama sehari maka rata-rata Rp 10.000/hari anak-anak menghabiskan uang. Nah pertanyaan, jikalau orang tua dalam sehari tidak memberikan uang saku di luar hari aktif sekolah, atau katakanlah dia memberi uang saku tidak lebih dari Rp 5.000; maka orang tua harus mencari tau dari mana mereka mendapatkan uang tambahan? Bisa jadi mereka bongkar celengan, atau belajar menjual barang, atau mungkin membongkar dompet anda?

Kedua, Warnet sebagai fasilitas publik, tentunya banyak lapisan masyarakat yang menggunakannya.Setahu penulis tak ada batasan umur untuk dapat merental warnet. Penulis juga tidak pernah melihat ada warnet yang menerapkan aturan hanya yang berumur 17 ke atas saja yang dapat menggunakan internet. Artinya semua segmen dan semua umur masyarakat dapat menggunakan internet di warnet.Penulis suka melihat bagaimana antusias anak-anak bermain game online, ironinya mereka banyak mencontoh pengunjung yang lebih dewasa menyalah gunakan game online untuk berjudi misalkan. Ini tentunya pelajaran secara direcly kepada anak atau adik anda untuk mengikutinya. Belum lagi jika mereka ketika kalah bermain, sambil teriak mengumpat bahkan memaki, karena mengalami kekalahan disaat kalah dalam ber-game maka, kata-kata makian itu pun akan terekam oleh anak atau adik anda.Hal seperti ini barang kali tidak jadi masalah jika anda terbiasa mendidik dengan bentakan (nada tinggi) dan makian, tetapi bagi yang tidak biasa tentunya ini menjadi masalah tersendiri.

Ketiga, Ada sebagian warnet yang melarang pengunjungnya merokok karena ruangan ber AC, tapi bagaimana jika ruangan tidak ber-AC. Penulis memiliki pengalaman sendiri, walau pun ruangan ber-AC tetap saja merokok jalan terus. Ironinya ada yang memberikan tulisan larangan, tetapi operatornya juga merokok. Walhasil setelah satu jam menggunakan internet, badan mulai meriang, dan baju bau asap rokok. Akhirnya karena banyak sekali gangguan di warnet penulis memutuskan untuk pasang internet di rumah. Sekarang penulis bisa bernafas lega, disamping kapan saja kita dapat akses internet yang terpenting penulis tak perlu pening dengan asap rokok. Namun, masih ada yang tersisa, bagaimana nasib anak-anak yang bermain di warnet? Mereka dalam sehari setidaknya 2 jam menjadi perokok pasif dan ini memberikan resiko tiga kali di banding si perokok.

Setidaknya inilah yang coba di ungkap oleh Setyo Budiantoro dari Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) mengatakan, sebanyak 25 persen zat berbahaya yang terkandung dalam rokok masuk ke tubuh perokok, sedangkan 75 persennya beredar di udara bebas yang berisiko masuk ke tubuh orang di sekelilingnya.

Konsentrasi zat berbahaya di dalam tubuh perokok pasif lebih besar karena racun yang terhisap melalui asap rokok perokok aktif tidak terfilter. Sedangkan racun rokok dalam tubuh perokok aktif terfilter melalui ujung rokok yang dihisap. “Namun konsentrasi racun perokok aktif bisa meningkat jika perokok aktif kembali menghirup asap rokok yang ia hembuskan.”  Racun rokok terbesar dihasilkan oleh asap yang mengepul dari ujung rokok yang sedang tak dihisap. Sebab asap yang dihasilkan berasal dari pembakaran tembakau yang tidak sempurna.  Lebih lanjut dapat mengunjungi link berikut:http://kosmo.vivanews.com/news/read/69076-bahaya_perokok_pasif_3_kali_perokok_aktif

Tidak bijak tentunya mengabaikan pendidikan anak-anak sebagai amanah Tuhan. Bantu mereka dalam melewati kehidupan dan ujian hidup. Barangkali dulu masih sedikit sarana hiburan, dibanding sekarang kemajuan jaman menyediakan seluas-luasnya hiburan. Di satu sisi menjadi nilai tambah peradaban, di sisi lain menjadi ujian sendiri bagi generasi terkini.  Melarang mereka bermain itu suatu hal yang tidak mungkin.  Dampingilah dan tak kenal henti memberikan pengertian kepada mereka cara menggunakan Tekhnologi yang benar dan bijak.

Sumber: http://sosbud.kompasiana.com/2011/12/05/anak-anak-dan-warnet/

http://laposufi.blogspot.com/2011/12/anak-anak-dan-warnet.html