Tags

, , , , , ,

Pimpinan  JAI Tanjung Pura, M Akram Djazuli

ImagePada hari Jum’at (10/12) saya berkesempatan menghadiri undangan buka bersama dari Aliansi Sumut Bersatu (ASB), sebuah ornop yang konsern terhadap penguatan penghormatan, pengakuan, perlindungan dan pemenuhan Hak Atas Keberagaman. Acara berbuka yang sederhana itu diselenggarakan di sebuah restoran di kawasan Medan Baru. 

Menariknya, acara buka bersama itu didahului dengan penayangan film Romi dan Yuli dari Cikesik dan dilanjutkan dengan kegiatan diskusi. Film itu menceritakan tentang sepasang  kekasih yang saling mencintai tetapi ternyata hubungan cinta mereka tidak disetujui oleh kedua orang tua masing-masing. 

Pasal ketidaksetujuan orang tua mereka karena mereka berlainan keyakinan agama, mereka sama-sama muslim tapi ternyata yang laki-laki muslim Ahmadiyah sementara yang wanita muslim umum. Hal itulah yang kemudian menyebabkan ayah si gadis murka. Kisah cinta mereka yang indah menjadi terlarang dan dipenuhi oleh duka lara.       

Meskipun cerita film itu sebagian besarnya fiksi tetapi sebenarnya banyak pelajaran yang bisa dipetik. Di zaman yang katanya canggih saat ini kisah-kisah sedih semacam itu senantiasa ada disebabkan kurangnya informasi dan salah paham duka lara itu terjadi. 

Diskusi berjalan dengan baik yang membahas soal film tersebut seputar persoalan-persoalan pluralisme yang benar-benar terjadi di tengah masyarakat. Kadang kita memang kurang menyadari bahwa kerukunan merupakan aset berharga untuk menatap masa depan yang lebih baik.   

Tidak terasa sekitar tiga jam dilewati buka puasa pun tiba, tidak hanya muslim, perserta yang non muslim pun turut menyantap hidangan berbuka. Dalam suasana akrab dan cair semua peserta nampaknya menikmati suasana Ramadan yang penuh rahmat.

 (*/tribun-medan.com) 

Penulis : Truli
Editor : Sofyan Akbar
Sumber : Tribun Medan