Serba-Serbi Jalsah Salanah of North Sumatra 2012

Tags

, , ,

ImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImageImage

Advertisements
RAISUT TABLIGH Mln. Sayuti Aziz Ahma Shd

Kelenteng Chin Khun Tien Gelar Baksos Imlek

Tags

, ,

(Analisa/fahrin) Hasyim SE didampingi Suhu Song Tek Guan secara simbolis memberikan bingkisan kepada masyarakat pra sejahtera yang akan merayakan Imlek 2563 BE di depan Kelenteng Chin Khun Tien, Jalan Wahidin Gang Lurah Medan, Rabu (18/1).
Medan, (Analisa). Menjelang Imlek 2563 BE Kelenteng Chin Khun Tien yang berada di Jalan Wahidin Gang Lurah, Kelurahan Pandu Hulu II Kecamatan Medan Area menggelar bakti sosial (baksos) kepada masyarakat yang akan merayakan Imlek, Rabu, (18/1)
Suhu Song Tek Guan yang didampingi salah satu donatur Kelenteng Chin Khun Tien yang juga Wakil Ketua Komisi C DPRD Medan, Hasyim SE menjelaskan, baksos kepada masyarakat pra sejahtera yang akan merayakan Imlek dengan membagikan sekitar 310 bingkisan yang diberikan di empat wilayah yakni Petisah, Wahidin, Binjai, Pantai Cermin berupa beras, kue bakul dan mie instan.

Kegiatan baksos yang dilaksanakan sudah sering dilakukan. Baksos yang dilakukan ungkap suhu Song Tek Guan terselenggara dari bantuan donatur dan sumbangan dari ummat yang sembahyang di Kelenteng Chin Khun Tien.

“Saya sangat berterima kasih kepada donatur dan ummat yang sembahyang di kelenteng yang memberikan sumbangan hingga dapat terselenggaranya kegiatan sosial. Saya berharap bantuan yang diberikan semakin banyak agar semakin banyak masyarakat yang mendapatkan bantuan,” bilangnya.

(rin)

Kelas Tarbiyat Yang Mengesankan

Tags

, , , , , , , ,

Medan (mubarak) 4 Januari 2012.  Dalam rangka mengisi liburan anak-anak sekolah maupun kuliahan, Qaid Daerah SUMUT Wilayah Barat & Wilayah Timur  yang ditunjuk selaku kordinator Pelaksana Kegiatan kembali menyelenggarakan acara Kelas Tarbiyat yang merupakan agenda  Sekretaris Tarbiyat Pengurus Besar (PB JAI) di penghujung akhir tahun 2011. Walaupun ada kesamaan tanggal dalam pelaksanaan Kelas Tarbiyat tahun 2011 ini dengan pelaksanaan Kelas Tarbiyat tahun sebelumnya yaitu sama-sama dilaksanakan pada tanggal 24 – 27 Desember, namun ada perbedaan dalam hal jumlah peserta dll. Kalau dalam Kelas Tarbiyat Tahun sebelumnya jumlah peserta hanya mencapai 80 orang saja, sementara dalam pelaksanaan Kelas Tarbiyat Tahun ini animo peserta semakin meningkat hampir mencapai angka 50% lebih, ini terlihat dengan jumlah peserta menjadi 133 orang sesuai dengan harapan dan target dari Pantia.

Acara Kelas Tarbiyat yang dimulai pada Sabtu malam 24 Desember 2011, setelah diawali sambutan dan diiringi doa pembukaan yang dipinpin langsung oleh Bapak Mubaligh Wilayah SUMUT Wilayah Barat, Mln Murtiyono Yusuf Ismail dengan ucapan Basmalah secara resmi acara Kelas Tarbiyat ini dimulai. Mengiringi hari pertama Acara Kelas Tarbiyat seperti biasa tidak pernah absen dan terlewat sebelum memasuki ruangan belajar, seluruh peserta tidak terkecuali harus rapih berbaris membentuk barisan berbanjar untuk mengikuti Apel Pagi sesuai dengan Hizebnya masing-masing yang sudah diatur oleh panitia, hal ini untuk memudahkan pengawasan dan pengontrolan terhadap para peserta dalam segala kegiatan.

Setelah melaksanakan apel pagi selama kurang – lebih 15 menit, para peserta diabsen masuk ke ruang kelasnya masing masing sesuai dengan tingkatan usia dan juga kelasnya, mereka belajar dalam kelas sampai pukul 12.00 Wib/menjelang Shalat Dzuhur.  Setelah Shalat Dzuhur jama’ Ashar kemudian dilanjutkan makan siang.  Untuk menghilangkan kepenatan dan kejenuhan para peserta karena seharian mereka belajar, maka panitia acara menyajikan bebagai macam games/permainan menarik yang bisa menghibur mereka.  Diantaranya: Game sarung Lingkar antar Hizeb, tusuk balon saling berlawanan, menata gelas & yang tak kalah seru dan paling diminati oleh seluruh peserta terutama Khuddam maupun Athfal adalah pertandingan Futsal. Untuk Panitia Acara LI & NAI pun tidak kalah serunya mereka  &  menyuguhkan game-game yang menarik dan mengocok perut semua yang menyaksikannya. Untuk malam harinya selain mereka dihidangkan game – game yang menyehatkan tubuh bagi para peserta semua, panitia pun menyuguhkan Game-game kerohanian untuk para peserta.   Agar yang mereka santap itu menjadi seimbang antara sajian jasmani & rohani.

Setelah acara perlombaan kerohanian para peserta pun diharuskan pergi berlabuh ke pulau kapuk/tidur,  guna mempersiapkan jiwa raga semua peserta dalam menyambut & menyongsong hari esok yang penuh semangat, motivasi hidup yang  lebih baik lagi dari pada kemarin dengan siraman rohani yang bisa menyejukan Qalbu para peserta dari para Mubaligh/Panitia.  Seperti itulah kegiatan mereka selama  4 hari dalam acara tersebut.

Di hari terakhir Acara Kelas Tarbiyat Tahun 2011 ini, karena semua agenda belajar maupun perlombaan yang disajikan oleh Panitia acara sudah selesai, maka para peserta kelas tarbiyat diajak Berwisata Religi ke sebuah Wihara terbesar se Asia Pasifik yaitu Vihara yang terletak di Komplek Perumahan yang ada di Cemara.  Tempat Wisata Religi yang sama seperti Wisata Religi Kelas Tarbiyat tahun sebelumnya,  yang sebelumnya Panitia sudah mensurvei ke sebuah Kuil Hindu yang berlokasikan di Kampung Keling/kampong Madras istilah untuk lingkungan tempat tinggal orang-orang India yang mayoritas berdomisili di Medan. Dikarenakan suatu hal dan pertimbangan keamanan dll, Panitia meutuskan tidak jadi untuk berkunjung ke Kuil Hindu tersebut.  Sebagai ganti dan mengobati akan kekecewaan para peserta, maka akhirnya Panitia Menentukan tempat Wisata Religi yang sama dengan tahun sebelumnya sehingga hal ini pun tidak menyurutkan semangat para peserta semuanya.

Sepulangnya dari Wisata Religi kemudian dilanjutkan dengan Shalat Dzuhur jama’ Ashar dan makan Siang.  Tepat pukul 15.00 WIB acara Penutupan pun dimulai, seperti biasa sebelum amanah dan doa penutup acara yang selau dinanti –nanti oleh para peserta adalah pembagian hadiah dari berbagai macam game baik jasmani maupun rohani, dan juga juara-juara lainnya.  Para peserta pun merasa sangat senang dan antusias dalam  mengikuti acara Kelas Tarbiyat pada kesempatan tahun ini, hal ini  terucap dari salah seorang peserta yang baru pertama kalinya mengikuti acara tersebut dalam pesan dan kesan yang disampikannya dihadapan para peserta Kelas Tarbiyat.  Memang Kelas tarbiyat tahun ini lebih tertib, lebih khidmat, peserta juga bertambah, antusias ana-anak juga tampak di muka mereka dalam mengikuti setiap kegiatan Kelas Tarbiyat.  Akhirnya dengan diawali sambutan yang dibawakan oleh Bapak Mubaligh Wilayah SUMUT Wilayah Barat & Aceh, Mln. Murtiyono Yusuf Ismail,” dengan mengucap hamdallah acara Kelas Tarbiyat tahun ini secara resmi kami tutup, sampai jumpa lagi di momen-momen Kelas Tarbiyat yang akan datang, semoga Allah Ta’ala mengizinkan kita untuk dapat bertemu kembali dalam Kelas Tarbiyat yang akan datang.”  (Sarmad)

PLURALISME BERAGAMA

Tags

, , , , , ,

Oleh Intan

Pluralisme merupakan salah satu tema yang  paling hangat  di perdebatkan  oleh masyarakat saat ini yang tidak pernah ada habis- habisnya.

Pluralisme merupakan bentuk keberagaman, kebhinekaan. Keberagaman yang dimaksud disini bukan merupakan realitas sosial, melainkan juga sebagai gagasan-gagasan, paham-paham, dan fikiran-fikirannya. Keberagaman maupun kebhinekaan merupakan sesuatu yang telah terberlangsung sejak berabad- abad, jauh sebelum negara terbentuk.  Didalam UUD 1945 yang menyatakan bahwa”Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing- masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannyaitu”. Atas dasar undang- undang ini, semua warga negara, dengan beragam identitas kultural, suku, jenis kelamin, agama, dan sebaliknya, wajib dilindungi oleh negara. Artinya negara tidak boleh mendiskriminasi warga negaranya dengan alasan apapun.

Indonesia juga merupakan negara yang demokratis. artinya , setiap individu memiliki hak hidup, mengekspresikan pikiran serta pendapatnya. Jadi sistem demokrasi yang seharusnya diterapkan dinegara tercinta ini adalah sistem demokrasi yang meniscayakan kebebasan, kesetaraan, dan penghormatan martabat, dengan menghormati hak-hak tersebut.

Manusia yang memiliki pengetahuan yang sangat dangkal, yang sebagaimana ia  beranggapan yang sebagaiman kita ketahui sampai saat ini menjadi permasalahan yang tidak berujung pangkal sehingga dinegara kita belum terciptanya suatu bangsa yang merdeka. Pengetahuan yang dangkal  manusia berpemahaman dari firman tuhan yang menyatakan bahwa orang yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan Allah adalah orang kafir, zalim,dan fasik (QS al-maidah[5]44,45,47).  Didalam firman Allah ;” apakah hukum jahilliyah yang mereka kehendaki dan hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang- orang yang yakin (QS al-maidah[5]:50).berdasarkan ayat- ayat tersebut mereka meyakini bahwa tidak boleh menerima keyakinan dan pikiran lain kecuali keyakinan dan pemikiran islam.dengan demikian, pluralisme merupakan hal yang terlarang dan harus dilawan. Meyalahkan pihak lain, adalah bentuk kebodohan yang  nyata sekaligus kekeliruan besar terhadap teks-teks suci islam. alQura’n mengkritik mereka sebagai orang-orang yang tertutup pikiran dan hatinya.(QS Muhammad[47];24).

Sebagai negara yang merdeka, tidak boleh ada paksaan bagi seseorang untuk memeluk suatu agama atau pindah agama, maupun tidak memilihnya. karena kebenaran maupun sesuatu yang salah sudah dibentangkan oleh tuhan, dan terserah manusia tersebut jalan mana yang ia tempuh. Sebagaimana yang kita ketahui, tuhan menciptakan manusia berbeda- beda, maka jelaslah bagi kita bahwa perbedaan itu adalah suatu hal yang indah dan tanpa perbedaan dunia ini tidak berwarna.

Didalam deklarasi kairo pasal 1 “ Manusia adalah satu keluarga,sebagai hamba Allah daan berasal daari ada. Semua orang adalah sama dipandang dari martabat dasar manusia dan kewajiban dasar mereka tanpa diskriminasi ras, warna kulit, bahasa, jenis kelamin, kepercayaan agama, ideologi politik, status sosial, atau pertimbangan-pertimbangan lain. jadi, jelaslah bagi kita pluralisme merupakan aspresiasi yang tinggi.  Apabila setiap pikiraan, ide, gagasan, aturan, dan tradisi apapun yang tidak dapat mewujudkan prinsip- prinsip tersebut dalam kehidupan nyata, merupakan wujud kegagalan manusia dalam memahami teks- teks agama.

Sikap terhadap pluralitas beragama:

  • Sikap eksklusif artinya agama dipandang sebagai buatan manusia sehingga tidak layak menjadi pedoman.yang menyatakan bahwa sekumpulan orang yang berada  dalam kegelapan, kekufuran, dan tidak mendapat petunjuk tuhan kitab suci agama lain dianggap tidak asli karena didalamnya telah ada perubahan menyesatkan yang dilakukan oleh para tokoh agamanya.
  • Sikap inklusif, yang menyatakan tentang pentingnya memberikan toleransi terhadap individu yang berpandangan keagamaan terhadap sikap tunduk hanya kepada tuhan
  • Pluralis, setiaap agama memiliki jalannya sendiri- sendiri.

Jadi kaum pluralisme dalam beragama mengatakan semua agama umumnya menawarkan jalan keselamatan bagi manusia yang mengandung kebenaran religius.

Jadi, keberagaman dalam beragama merupakan suatu kekayaan suatu bangsa. Impian suatu bangsa adalah “PEACE AND LOVE  EACH OTHER”

ANAK-ANAK DAN WARNET

Tags

, , , , , , , ,

Liburan sudah dekat. Tentunya ini yang membuat hati anak-anak senang dan tidak sabar bertemu liburan setelah mereka susah payah berperang melawan ujian belajar. Tak sedikit orang tua pun merasa senang karena segera akan melihat hasil belajar anak-anak mereka. Bagi yang anaknya mendapat hasil bagus pastinya perasaan bangga akan menghinggapinya.Bagi yang anaknya mendapat nilai biasa, yang pasti ekspresinya berbanding terbalik dengan orang tua yang pertama tadi.

Namun dalam kesempatan ini, penulis tidak akan membahas senang atau tidak senang anak-anak menunggu liburan atau orang tua menunggu hasil belajar anak-anak mereka, tetapi penulis ingin bercerita soal pengalaman penulis melihat dinamika anak-anak jaman sekarang dalam berinteraksi dengan dunia maya/internet.

Setidaknya ada tiga hal yang selalu membuat penulis gelisah:

Yang pertama, Ketika liburan tahun lalu penulis melihat anak-anak sekitar pukul 09.00 – 12.00 mereka banyak menghabiskan waktu ke warnet. Setelah itu sore harinya pukul 16.00 – 17.30 kembali ke warnet lagi. Terkadang kalau yang agak kecanduan pukul 20.00-21.30 mereka pergi lagi ke warnet. Penulis berfikir, Kalau mereka pergi ke warnet dengan rata-rata bermain selama 2 jam, dengan harga Rp 2.500;/jam saja berarti untuk waktu 2 jam mereka harus merogoh kocek Rp 5.000;. Maka dengan intensitas 2 x selama sehari maka rata-rata Rp 10.000/hari anak-anak menghabiskan uang. Nah pertanyaan, jikalau orang tua dalam sehari tidak memberikan uang saku di luar hari aktif sekolah, atau katakanlah dia memberi uang saku tidak lebih dari Rp 5.000; maka orang tua harus mencari tau dari mana mereka mendapatkan uang tambahan? Bisa jadi mereka bongkar celengan, atau belajar menjual barang, atau mungkin membongkar dompet anda?

Kedua, Warnet sebagai fasilitas publik, tentunya banyak lapisan masyarakat yang menggunakannya.Setahu penulis tak ada batasan umur untuk dapat merental warnet. Penulis juga tidak pernah melihat ada warnet yang menerapkan aturan hanya yang berumur 17 ke atas saja yang dapat menggunakan internet. Artinya semua segmen dan semua umur masyarakat dapat menggunakan internet di warnet.Penulis suka melihat bagaimana antusias anak-anak bermain game online, ironinya mereka banyak mencontoh pengunjung yang lebih dewasa menyalah gunakan game online untuk berjudi misalkan. Ini tentunya pelajaran secara direcly kepada anak atau adik anda untuk mengikutinya. Belum lagi jika mereka ketika kalah bermain, sambil teriak mengumpat bahkan memaki, karena mengalami kekalahan disaat kalah dalam ber-game maka, kata-kata makian itu pun akan terekam oleh anak atau adik anda.Hal seperti ini barang kali tidak jadi masalah jika anda terbiasa mendidik dengan bentakan (nada tinggi) dan makian, tetapi bagi yang tidak biasa tentunya ini menjadi masalah tersendiri.

Ketiga, Ada sebagian warnet yang melarang pengunjungnya merokok karena ruangan ber AC, tapi bagaimana jika ruangan tidak ber-AC. Penulis memiliki pengalaman sendiri, walau pun ruangan ber-AC tetap saja merokok jalan terus. Ironinya ada yang memberikan tulisan larangan, tetapi operatornya juga merokok. Walhasil setelah satu jam menggunakan internet, badan mulai meriang, dan baju bau asap rokok. Akhirnya karena banyak sekali gangguan di warnet penulis memutuskan untuk pasang internet di rumah. Sekarang penulis bisa bernafas lega, disamping kapan saja kita dapat akses internet yang terpenting penulis tak perlu pening dengan asap rokok. Namun, masih ada yang tersisa, bagaimana nasib anak-anak yang bermain di warnet? Mereka dalam sehari setidaknya 2 jam menjadi perokok pasif dan ini memberikan resiko tiga kali di banding si perokok.

Setidaknya inilah yang coba di ungkap oleh Setyo Budiantoro dari Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) mengatakan, sebanyak 25 persen zat berbahaya yang terkandung dalam rokok masuk ke tubuh perokok, sedangkan 75 persennya beredar di udara bebas yang berisiko masuk ke tubuh orang di sekelilingnya.

Konsentrasi zat berbahaya di dalam tubuh perokok pasif lebih besar karena racun yang terhisap melalui asap rokok perokok aktif tidak terfilter. Sedangkan racun rokok dalam tubuh perokok aktif terfilter melalui ujung rokok yang dihisap. “Namun konsentrasi racun perokok aktif bisa meningkat jika perokok aktif kembali menghirup asap rokok yang ia hembuskan.”  Racun rokok terbesar dihasilkan oleh asap yang mengepul dari ujung rokok yang sedang tak dihisap. Sebab asap yang dihasilkan berasal dari pembakaran tembakau yang tidak sempurna.  Lebih lanjut dapat mengunjungi link berikut:http://kosmo.vivanews.com/news/read/69076-bahaya_perokok_pasif_3_kali_perokok_aktif

Tidak bijak tentunya mengabaikan pendidikan anak-anak sebagai amanah Tuhan. Bantu mereka dalam melewati kehidupan dan ujian hidup. Barangkali dulu masih sedikit sarana hiburan, dibanding sekarang kemajuan jaman menyediakan seluas-luasnya hiburan. Di satu sisi menjadi nilai tambah peradaban, di sisi lain menjadi ujian sendiri bagi generasi terkini.  Melarang mereka bermain itu suatu hal yang tidak mungkin.  Dampingilah dan tak kenal henti memberikan pengertian kepada mereka cara menggunakan Tekhnologi yang benar dan bijak.

Sumber: http://sosbud.kompasiana.com/2011/12/05/anak-anak-dan-warnet/

http://laposufi.blogspot.com/2011/12/anak-anak-dan-warnet.html

 

HAK ASASI MANUSIA DALAM BERAGAMA

Tags

, , , , , , , , , , , ,

Oleh Ngesty Tsalits

Hak asasi manusia adalah hak-hak dasar yang di bawa manusia sejak ia hidup yang melekat pada esensinya sebagai anugrah Tuhan yang maha kuasa. Bila hak asasi manusia belum dapat di tegak kan maka akan terus terjadi pelanggaran dan penindasan atas Ham baik oleh masyarakat, bangsa, atau pemerintah. Tak bisa di pungkiri bumi sebagai tempat hunian manusia adalah satu. Namun para penghuninya terdiri dari berbagai suku , ras, bahasa, profesi , kultur dan agama. Dengan demikian fenomena kemajemukan tak bisa dihindari. Kemajemukan atau keberagaman bukan hanya sebagai sebuah realitas sosial. Undang-undang dasar 1945 sebagai hukum negara menyatakan dengan jelas bahwa negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agama nya masing-masing dan untuk beribadat menurut agama dan kepercayaannya itu. Karena itu ditegaskan semua agama memiliki hak yang sama untuk tumbuh dan berkembang, termasuk pemeluk agama untuk menjalankan agamanya secara bebas. Yang lain tidak perlu dipaksa pindah agama sebagaimana realita yang kita lihat selama ini. Setiap orang memiliki hak dasar memeluk agama, yang berarti kebebasan dan kewenangan seseorang untuk menganut suatu agama yang tercantum dalam Al-Qur’an Surat Al-kafirun 109:6 yang berbunyi “Lakum dinukum wa liya din” yang artinya : Untuk kalian agama kalian dan untukku lah agamaku. Qur’an surat Al-Baqarah 2:256 yang berbunyi “La ikraha fi al din” yang artinya : Tidak ada paksaan dalam agama”. Sedangkan orang yang lain memiliki kewajiban untuk mengakui kewenangan orang tersebut. Banyak kelompok menolak kemajemukan dalam beragama, mereka adalah orang-orang yang biasanya beranggapan bahwasannya agama merekalah yang paling otentik bersal dari tuhan. Sementara agama lain di anggap sebagai kontruksi manusia, mungkin saja berasal dari tuhan tapi telah mengalami perombakan dan pemalsuan oleh umat nya sendiri Seluruh agama mengajarkan agar umatnya menyembah tuhan. Hanya saja sebagaimana lazimnya setiap agama atau kepercayaan selalu memiliki konsepsi-konsepsi atau rumusan-rumusan tentang tuhan yang kemungkinan berbeda antara satu umat dengan umat yang lain. Jadi suatu kemajemukan merupakan suatu hal yang seharusnya dapat dimengerti oleh suatu negara. Sehingga dinegara ini terciptanya sutu tatanan yang kondusif. Tanpa ada suatu hal apapun yang menjadi bumerang. Setiap manusia mempunyai hak masing- masing, apalagi masalah beragama. Contoh, yang tidak pernah selesai ada permasalahan dalam beragama. Yang seharusnya masalah ini tidak harus diperdebatkan, karena setiap individu pasti memiliki naluri ketuhanan yang tidak boleh kita paksakan. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa; didunia ini banyak sekali agama- agama. Jadi jelaslah bagi kita agama tidak mungkin tunggal. Dan apabila seseorang beranggapan bahwa hanya satu agamalah yang patut ada dimuka bumi ini, itu adalah hal yang sangat mustahil sekali. Setiap agama memiliki jalan sendiri- sendiri, jalan- jalan menuju tuhannya beragam, banyak , dan tak tunggal. Semuanya bergerak menuju tujuan yang satu ,yaitu Tuhan. Tuhan yang satu yang tidak mungkin dipahami . Secara tunggal oleh seluruh umat beragama kehendaki. Maka kita harus memiliki sikap toleransi dan sikap tenggang rasa yang tinggi untuk menghargai dan menghormati setiap individu yang memiliki agama yang berbeda dengan individu yang lain. Dengan begitu terciptanya sikap saling mengakui dan saling mempercayai tanpa ada kekawatiran untuk dikonversikan kedalam agama tertentu baik secara halus maupun terang- terangan. Para aktivis LSM kerap kali terlibat dalam aksi bersama untuk melakukan kritik terhadap intervrensi negara pada dominan agama yang memang bukan wilayahnya hingga aksi mengadvokasi korban kekerasan atas nama agama, korban di deskriminasi etnik dan korban pelanggaran HAM dan demokrasi. The Wahid Institute melakukan advokasi, kepada kelompok Ahmadiyah yang belakangan mengalami kekerasan , serta hal-hal yang dianggap bertentangan dengan UUD 1945, Hak Asasi Manusia (HAM), dan nilai-nilai demokrasi. Di samping itu, bersama Crisis Center GKI ( Gereja Kristen Indonesia ), The Wahid Institute juga menyelenggarakan workshop untuk kalangan pendeta dan calon pendeta. Workshop yang berlangsung sebanyak sembilan kali pertemuan dan live in di pesantren selama tiga hari itu bukan hanya membicarakan penegakan HAM , keadilan dan kesetaraan gender, pluralisme agama, dan demokratisasi di Indonesia. Memperhatikan fakta-fakta di atas, dialog agama tidak hanya bertumpu pada pemecahan problem keberagamaan , melainkan juga diarahkan pada bagaimana agar dialog tersebut memberi kontribusi signifikan bagi proses demokratisasi. Untuk tujuan itu, para aktivis dialog agama kerap melakukan formulasi ulang terhadap pandangan-pandangan normatif agamanya menyangkut hakikat manusia ,martabat manusia, kesetaraan semua manusia dan solidaritas sejati antara sesama umat manusia .Telah lama di sadari, dialog adalah langkah terwujudnya kehidupan demokratis. Dialog melatih untuk membangun sikap saling memberi dan menerima (take and give), tenggang rasa, saling mendengar, dan empati kepada orang lain. Dari sini, dialog di harapakan dapat merumuskan langkah demokratis dengan mengindentifikasi terlebih dulu sejumlah tantangan yang di hadapi masyarakat. Sebab, tantangan yang di hadapi salah satu agama merupakan tantangan yang dihadapi agama yang lain pula. Problem yang di hadapi agama, hakikat nya adalah problem yang di hadapi seluruh manusia.

Menanggapi buku ‘Menggugat Ahmadiyah’

Tags

,

Posted by: dildaar80 on: 26 Mei 2011
In: ahmadiyah Comment!

Rate This

MENGGUGAT AHMADIYAH

Penulis : Dr. Muchlis M. Hanafi
Judul : Menggugat Ahmadiyah
Cetakan I : Rabi’ul Awwal 1432/Maret 2011
Tebal/ Ukuran : 116 + xxii halaman/ 13 x 20.5 cm
Jenis cetak : Soft Cover/ Bookpaper
ISBN : 978-979-90488-5-1
Harga : Rp26.000
Informasi : 021-7424373 dengan Lusy atau Carol.
Twitter : @LenteraHatiBook.
Penerbit : Lentera Hati Jl. Kertamukti No. 63 Pisangan, Ciputat, Tangerang 15419
Telp./Fax : (021) 7421913
Website : http://www.facebook.com/l/1d084qHGVsve7qddDaFLq0vcGMw/www.lenterahati.com
E-mail : info@lenterahati.com

Biografi Singkat Penulis
Dr. Mukhlis M. Hanafi, M.A. dilahirkan di Jakarta pada 18 Agustus 1971. Selepas “nyantri” di KMI Pondok Modern Gontor, Muchlis Hanafi kemudian memperdalam ilmunya dengan “nyantri” di Pesantren Tinggi Ilmu Fiqih Bangil (1989-1990) dan PP. Tahfizh al-Quran Sunan Pandanaran, Yogyakarta (1990-1992).

Selama tiga belas tahun (1992-2006), Muchlis Hanafi mematangkan studinya dalam bidang Tafsir Al-Quran di Universitas Al-Azhar, Kairo, Jurusan Tafsir dan Ilmu-ilmu Al-Quran. Meraih Magister pada tahun 2000 dengan tesis: Studi Kritik terhadap Tafsir Al-Khazin seputar penggunaan hadits-hadits dha’if (lemah) dan palsu serta kekeliruan lainnya dalam penafsiran. Dan pada 2006 merampungkan program doktoralnya dengan disertasi berjudul “Kitab Lawami’ Al-Burhan wa Qawathi’ Al-Bayan fi Ma’ani Al-Qur-an” karya Imam Al-Ma’iniy (w. 537 H) [Studi filologi yang meliputi editing naskah, kritik, komentar dan analisis metode penafsiran], dengan yudisium Summa Cum Laude. Disertasi ini direkomendasikan untuk dicetak atas biaya Universitas Al-Azhar agar dapat disertakan dalam pertukaran hasil riset antar perguruan tinggi di Mesir (cover muka bagian dalam).

Di samping mengajar di Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Institut Ilmu Al-Quran (IIQ) dan Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (PTIQ), Dr. Muchlis Hanafi juga bekerja sebagai Plt. Kepala Bidang Pengkajian Al-Quran Balitbang KementrianAgama RI, Manajer Program di Pusat Studi Al-Quran (PSQ) dan Konsultan Kerjasama Luar Negeri (Timur Tengah).
Sewaktu kuliah di Al-Azhar, Dr. Muchlis Hanafi ikut dalam tim yang menerjemahkan Tafsir Al-Muntakhab terbitan Kementrian Wakaf Mesir. Setelah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi Ensiklopedia Al-Quran “Kajian Kosa Kota” yang diterbitkan oleh Pusat Studi Al-Quran (PSQ) Jakarta di bawah pimpinan Prof. Dr. M. Quraish Shihab, M.A. dan Penerbit Lentera Hati. Sekarang beliau dipilih menjadi Ketua Tim Penyusun Tafsir Tematis Kementrian Agama RI, tahun 2007 dan 2008.

Di samping aktif di sejumlah lembaga sosial keagamaan, seperti Lembaga Dakwah NU (LDNU), Dr. Muchlis Hanafi juga aktif mengikuti seminar dan konferensi internasional, seperti Konferensi Dialog Antar-Mazhab di Doha, Qatar (2007 dan 2008), Konferensi Zakat ke 7 di Kuwait (2007) dan Konferensi Islam Internasional tentang Dialog di Mekkah (2008).

Komentar Penerbit

Gugatan atas keberadaan Jemaat Ahmadiyah telah bergulir menjadi isu nasional. Terlepas dari pro-kontra yang mengitarinya, bangunan argumentasi yang diformulasikan kelompok Ahmadiyah ini sepintas memang sangat berdasarkan dan meyakinkan. Bagi mereka yang tidak memiliki pijakan yang kokoh dan akses langsung ke sumber-sumber primer ajaran Islam, mungkin akan terpesona dan mengamini bahwa kedatangan nabi lain setelah Nabi Muhammadsaw dimungkinkan dalam Islam.

Benarkah Al-Quran memang memberi kemungkinan bagi munculnya nabi baru setelah Muhammadsaw, seperti yang disimpulkan kelompok Ahmadiyah dalam Tafsir mereka?

Buku ini membongkar kekeliruan-kekeliruan yang terdapat dalam Tafsir Ahmadiyah, utamanya penafsiran terhadap ayat-ayat kontroversial yaitu ayat-ayat yang digunakan Ahmadiyah untuk membenarkan kenabian Mirza Ghukam Ahmad. Bangunan argumentasi kelompok Ahmadiyah yang begitu memesona penampilannya, ternyata sangat rapuh jika didekati secara kritis!
Jika Anda masih bingung oleh kisruh seputar Ahmadiyah dan ingin tahu lebih banyak tentang pokok-pokok ajaran mereka yang diperselisihkan, buku ini merupakan rujukan yang sangat tepat dalam menjawab keingintahuan Anda. Buku ini juga cocok dibaca dan dikoleksi kalangan aktivis Muslim, pemerhati gerakan Islam dan siapa saja yang menaruh perhatian soal pemurnian ajaran Islam (cover bagian belakang).

Komentar Pembaca

Buku ini ini terdiri dari lima bagian: 1) Ahmadiyah dan Tafsir Al-Quran, 2) Nabi Muhammadsaw sebagai Khatam An-Nabiyyin, 3) Wafatnya Isa Al-Masih, 4) Kenabian Setelah Muhammadsaw dan 5) Sosok Mirza Ghulam Ahmad dalam Tafsir Jemaat Ahmadiyah.

Setelah saya membaca keseluruhan buku tersebut maka saya mengomentari sebagai berikut:

1. Buku ini ditulis oleh orang yang tepat. Hal ini dapat dibaca pada biografi singkat Penulis yang memiliki spesialisasi terhadap Tafsir Al-Quran. Hal ini diperkuat dengan kata pengantar oleh Prof. Dr. M. Quraish Shihab, M.A. (senior Penulis dalam bidang yang sama).

2. Buku ini menunjukkan bahwa Penulis memiliki tingkat etika yang tinggi. Buku lebih “sopan” dibandingkan buku-buku sejenis yang pernah diterbitkan. Hal ini dapat dilihat dari cara Penulis menyebut nama Pendiri Jemaat Ahmadiyah: Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad (atau hanya Mirza Ghulam Ahmad, nama asli Sang Pendiri). Berbeda dengan Penulis-penulis lain yang menggunakan nama “ejekan”: Qadiani, Mirzai atau nama lain yang bertendensi “merendahkan”.

3. Buku ini menunjukkan ketulusan Penulis. Hal ini dapat dilihat dari niat Penulis seperti yang diungkapkan oleh Penulis dan Dr. Quraish Shihab dalam “Pengantar”-nya, “Buku yang ada di tangan pembaca ini merupakan salah satu upaya mendialogkan penafsiran Jemaat Ahmadiyah yang dinilai menyimpang dari pokok-pokok ajaran Islam dalam bentuk tanggapan dan bantahan. Budaya dialog semacam ini perlu dikembangkan dalam menyikapi perbedaan dan penyimpangan dalam pemahaman keagamaan, dengan harapan mereka yang menyimpang dapat kembali kepada ajaran yang benar dengan penuh kesadaran. … dialog, bukan dengan pemaksaan apalgi kekerasan.” Pak Quraish juga berharap bahwa buku ini semoga bisa menjadi contoh tentang bagaimana seharusnya perbedaan pemahaman keagamaan disikapi dan dihadapi.

4. Buku ini mencermikan kejujuran sekaligus “kesederhanaan” Penulis. Hal ini dapat diketahui dari pernyataan Penulis bahwa buku ini fokus mencermati Al-Quran dengan Terjemahan dan Tafsir Singkat (terbitan Jemaat Ahmadiyah Indonesia) dan sedikit menyinggung penjelasan tafsir yang terdapat dalam Buku Putih (oleh penerbit yang sama).

Sayangnya, Penulis betul-betul “terfokus” pada kedua literatur tersebut. Memang, cara Penulis mengutip kedua literatur tersebut menunjukkan kejujuran tetapi hanya terfokus pada kedua literatur tersebut menunjukkan “kesederhanaan” Penulis. Mengingat begitu banyak literatur Ahmadiyah dan begitu mudah dan relatif murah untuk memperolehnya dari “tangan pertama”.

“Menyanggah” Gugatan

Melihat judul bukunya, jelas bahwa Penulis bermaksud menggugat pemahaman Ahmadiyah tentang Penafsiran Al-Quran. Dalam batas ini terkandung maksud bahwa Penulis masih mengakui status orang-orang Ahmadi sebagai Muslim. Namun demikian berkenaan dengan materi gugatan, mari kita bahas bab per bab (secara ringkas):

1. Ahmadiyah dan Tafsir Al-Quran
Berkenaan dengan metode penasiran Al-Quran, Penulis mengemukakan, “… dalam mengutip pendapat para ulama dari buku-buku tersebut ditemukan beberapa kutipan yang tidak tepat atau sempurna sehingga terkesan sekedar mencari pembenaran klaim tertentu yang sesungguhnya tidak terkandung dalam kutipan tersebut” (hlm. 8-9).

Penulis juga menjelaskan, “Selain menggunakan hadits, pandangan sahabat dan tabi’in yang menjadi sumber penafsiran dengan riwayat (tafsir bi al-ma’tsur), tafsir Ahmadiyah menggunakan pendekatan tafsir isyari yaitu sebuah penafsiran yang berusaha menangkap isyarat yang terkandung di balik lafal/zhahir ayat. Metode penafsiran ini banyak digunakan oleh kalangan sufi” (hlm. 10).

Pembaca berkomentar bahwa kalimat pertama (yang menyatakan ketidak-tepatan Ahmadiyah dalam metode tafsir) telah disanggah sendiri oleh kalimat kedua (yang mengemukakan dasar-dasar penafsiran Ahmadiyah yang merupakan dasar-dasar penafsiran standar para penafsir). Baca: Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an/Tafsir, Prof. Dr. T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy. 1994. Jakarta: Bulan Bintang, khususnya Bahagian V Bab Keempat; juga: Penafsiran Al-Qur’an dalam Perspektif Nabi Muhammad SAW, Dr. Muhammad Abdurrahman Muhammad. 1999. Bandung: Pustaka Setia. Khususnya Bab IV.

2. Nabi Muhammadsaw sebagai Khatam An-Nabiyyin

Penulis menyatakan pemahaman Ahmadiyah soal Khatam An-Nabiyyin “tidak tepat” meskipun Penulis telah mengetahui semua alasan telah dijelaskan Ahmadiyah berdasarkan Al-Quran dan Hadits dan pandangan ulama. Di mana menurut Shaikh Al-Islam Imam ibn Taimiyyah, “Cara yang paling benar untuk itu adalah menafsirkan Al-Quran dengan Al-Quran.” Lalu Shaikhul Islam melanjutkan, “Jika itu terlalu sulit untuk dilakukan maka hendaklah ditafsirkan dengan As-Sunnah sebab ia merupakan penjelasan terhadap Al-Quran.

Bahkan Imam Abu Abdillah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i: Setiap apa yang diputuskan oleh Rasulullahsaw adalah karena pemahamannya terhadap Al-Quran” (Pengantar Ilmu Tafsir, Shaikh Al-Islam Imam ibn Taimiyyah. 1989. Jakarta: Pustaka Panjimas. hlm. 64; baca juga: Bahtera Nuh, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. 1991. Bogor: Jemaat Ahmadiyah Indonesia. hlm. 40, 86-89).

3. Wafatnya Isa Al-Masih

Kekeliruan pandangan Jemaat Ahmadiyah di atas karena dibangun di atas premis yang keliru yaitu: Premis minor (muqaddimah shughra): Nabi Isa telah wafat dan tidak benar kalau beliau diangkat ke langit dalam keadaan hidup. Premis mayor (muqaddimah kubra): hadits-hadits yang berkenaan dengan turunnya Nabi Isa dipahami secara metafora atau dengan menakwilnya.

Kesimpulan (natijah): maksud diturunkannya Nabi Isa adalah diturunkannya seseorang yang serupa dengannya yaitu Mirza Ghulam Ahmad (hlm. 52).
Menurut Pembaca, menilai keliru pandangan Jemaat Ahmadiyah di atas karena dibangun di atas premis yang keliru, khususnya dalam “kewafatan Nabi Isa” sama dengan memandang keliru para ahli, ulama dan cendikiawan yang memiliki pandangan yang sama (bahwa Nabi Isaas telah wafat), seperti: Muhammad Asad (The Message of the Holy Qur’an), Rasheed Raza (Al-Manar vol. 5 hlm. 900-901), Mahmood Shaltoot (Al-Fatwa hlm. 52-75), Allama Mustafa Al-Maraaghi (Tafsir al-Maraghi hlm. 195), Prof. Abbas Mahmood (Life of Jesus hlm. 213), Sayyid Qutub (Fee Zilal-ul-Qur’an vol. 7 hlm. 66) dan banyak lagi ulama luar negeri.

Sedangkan ulama dalam negeri yang berpendapat Nabi Isaas telah wafat antara lain: Hamka (Tafsir Al-Azhar), Al-Haj Abdul Karim Amarullah (ayahanda Hamka dalam Al-Qoulush Shahih) dan Prof. Mahmud Yunus (Tafsir Al-Quranul Karim) [baca: Nabi Isa Al-Masih Kelahirannya di Bethlehem dan Kewafatannya di Kashmir, Ali Mukhayat MS. 2002. Tasikmalaya: EBK. Hlm. 89-91]. Demikiankah?

4. Kenabian Setelah Muhammadsaw dan 5. Sosok Mirza Ghulam Ahmad dalam Tafsir Jemaat Ahmadiyah.

Penulis menyatakan pemahaman Ahmadiyah seperti dalam bagian 4 dan 5 “tidak tepat” meskipun Penulis telah mengetahui semua alasan telah dijelaskan Ahmadiyah berdasarkan Al-Quran dan Hadits dan pandangan ulama.

Jadi masalahnya adalah pada pemahaman Penulis berbeda dengan pemahaman Pendiri Ahmadiyah. Bagaimana tidak? Karena dalam pandangan Ahmadiyah hal ini bermula dari sabda Yang Mulia Nabi Muhammadsaw bahwa “Demi Allah yang diri saya berada di tangan-Nya, sungguh, Isa bin Maryam benar-benar akan turun di antara kalian sebagai hakim penguasa yang adil, kemudian akan merusak salib, membunuh babi, menghabisi penerangan dan melimpahlah harta benda sehingga tidak ada seorang pun yang mau menerimanya dan satu kali sujud itu lebih baik daripada dunia seisinya” (HR Bukhari dan Muslim).

Dan dalam haditsnya yang panjang Nabi Muhammadsaw menjelaskan bahwa Nabi Isaas yang akan turun di akhir zaman itu dengan sebutan nabi, beliausaw bersabda, “Nabi Isa dan pengikut-pengikutnya terkepung, ….. Nabi Isa dan sahabatnya berdoa kepada Allah ….. Nabi Isa dan sahabat-sahabatnya datang di bumi itu ….. Nabi Isa dan sahabat-sahabatnya berdoa kepada Allah ….. (HR Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad dan Hakim). Banyak hadits senada, antara lain baca: Lampiran dari buku “Turunnya Isa bin Maryam pada Akhir Zaman. 1990. Jakarta: Haji Masagung. hlm. 58-117” (ada 68 hadits).
Makna ini ternyata juga diungkapkan dalam sebuah tanya-jawab Mu’tamar NU sebagai berikut, soal: “Bagaimana pendapat Mu’tamar tentang Nabi Isaas setelah turun kembali ke dunia. Apakah tetap sebagai nabi dan rosul? Padahal Nabi Muhammadsaw adalah nabi terakhir. Dan apakah madzhab empat itu akan tetap ada pada waktu itu?

Jawab: “Kita wajib berkeyakinan bahwa Nabi Isaas itu akan diturunkan kembali pada akhir zaman nanti sebagai nabi dan rosul yang melaksanakan syariat Nabi Muhammadsaw dan hal itu tidak berarti menghalangi Nabi Muhammadsaw sebagai nabi yang terakhir sebab Nabi Isaas hanya akan melaksanakan syariat Nabi Muhammadsaw. Sedang Madzhab empat pada waktu itu hapus (tidak berlaku). Baca: Kumpulan Masalah-masalah Diniyah dalam Mu’tamar ke 1 s/d 15. 1960. Semarang: Toha Putra. hlm. 34-35, khususnya pada Mu’tamar Nahdlatul ‘Ulama ke-III di Surabaya (12 Robiuts-Tsani 1347 – 28 September 1928).

Tinggal masalahnya adalah siapa orangnya, kapan dan di mana dia datang? Di sinilah terjadi perbedaan pendapat. Dalam hal berbeda pendapat, sikap terbaik yang diajarkan Al-Quran adalah, “Lakum diinukum wa liyadiin” (QS 109/Al-Kaafiruun: 6). Kata diin tidak hanya berarti agama tetapi juga berarti: 1) Kegagahperkasaan, kekuasaan, kemampuan, peradilan, pemaksaan, perbudakan dsb. 2) Ketaatan, penghambaan diri, pelayanan, pengekoran, penyerahan diri, terpengaruh, tertundukkan dsb. 3) Undang-ubdang, tatatertib, ideologi, aturan, tatakrama, adat-istiadat dsb. 4) Pembalasan, upah, peradilan, tindakan, pertanggungjawaban, perhitungan, tuntutan dsb. (Bagaimana Memahami Qur’an, Abul A’la Al-Maududi. 1981. Surabaya: Al-Ikhlas. Hlm. 118-123). Atau menurut H.A. Mukti Ali, “Agree in disagreement” (Setuju dalam perbedaan) [Ilmu Perbandingan Agama, Dialog, Dakwah dan Misi dalam Ilmu Perbandingan Agama di Indonesia dan Belanda, Burhanuddin Daya dan Herman Leonard Beck. 1992. Jakarta: INIS (Indonesian-Netherlands Coorperation in Islamic Studies)].

Kesimpulannya:

1) Secara aqidah, semua pemahaman Ahmadiyah beradasrkan Al-Quran, Hadits dan pendapat ulama. 2) Secara hukum, keberadaan Ahmadiyah di Indonesia diakui secara legal melalui Badan Hukum Menteri Kehakiman RI No. 5/23/13 Tgl. 13-3-1953. 3) Sebagai warga negara Republik Indonesia kita semua tunduk kepada hukum negara: UUD 1945 di mana dalam Pasal 27 ayat 1 dicantumkan, “Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya.” Selanjutnya, baca juga: Pasal 28-D ayat 1, Pasal 28-I ayat 1-2, Pasal 28-E ayat 1-3, Pasal 29 ayat 2 dan DUHAM (Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia).

Wassalam,
Ikatan Saudara (Lampung), 26-5-2011
Zafar Ahmad Khudori

ATHFAL MEDAN WIKARI AMAL

Tags

, , , , , , , , , , , ,

 

image

Medan (Mubarak), Fajar mulai menyingsing,udara sejuk sangat terasa di hidung kami. Masjid Mubarak Medan tampak di penuhi oleh Jamaah yang telah selesai melaksanakan sholat Subuh. (23/10). Tidak seperti biasanya subuh kali ini banyak diantara jamaahnya adalah athfal.  Mereka rupanya athfal Medan yang sedang menjalankan program kegiatan malam athfal.  Setelah semalam mereka melalui rangkaian pengajian dan menonton film, paginya mereka seperti biasa dibangunkan untuk melakukan sholat tahajjud berjamaah sebagai latihan bagi jiwa kerohanian mereka.  Pukul 04.15 wib, mereka memulai sholat tahajjud.  Dengan seorang imam Bp Mahmuddin Nazim Wilayah Ansharullah Sumutwilbar, sebelas rekaat mereka lakukan sudah teritung witir tiga rekaat.  Dengan khusuk mereka menjalankan ibadah tahajjud.  Sholat tahajjud pun selesai, sekitar 10 menit setelah itu berkumandanglah adzan subuh.  Baru para jamaah berdatangan yang tidak sempat mengikuti program tahajjud berjamaah seminggu sekali tersebut.  Dengan di imami oleh Bp Mubwil, sholat subuh pun dilaksanakan.  image Tanpa menyia-nyiakan waktu, setelah sholat subuh dan dars subuh, dengan di motori oleh koordinatoe athfal Fahrizal/Bang Dede anak-anak athfal biasa memangilnya, mereka langsung melakukan kegiatan berikutnya yakni wikari amal (gotong royong).  Wikari amal ini di fokuskan pada penebangan pohon yang sudah dirasa mengganggu sekali kaber listrik dan jaringan telepon.  Yang terpenting karena seringnya pedagang kaki lima mangkal persis di depan masjid juga merupakan satu alasan kenapa pohon di tebang.  Hal ini agar dirasa tidak terlalu teduh sehingga tidak di pilih menjadi lokasi mangkal para pedagang kaki lima yang mangkal persis di depan pagar dan pintu masjid serta rumah missi.
Alhamdulillah setelah di bersihkannya semua tampak rapi dan terang.  Semoga kedepan kebersihan lingkungan di sekitar masjid Mubarak dapat terus di jaga oleh para genarasi Jemaat.  Karena lokasi dengan luas 7000 m2 yang di wariskan para awalin ini masih belum termanfaatkan secara maksimal.  Jadi masih banyak tanah kosong yang prospek dimana jika tidak terus di jaga maka akan mulai tumbuh ilalang hingga tampak sekali berserakan oleh semak belukar. Sufi

SKILLS TRANING CLASS

Tags

, , , , , , , , , , , , , , , , ,

Medan,(Mubarak).  Setelah shalat maghrib para peserta mulai berdatangan ke mesjid mubarak Medan.  (09/07). Tidak lain kedatangan mereka ke Mesjid Mubarak adalah untuk mengikuti SKILLS TRANING CLASS (STC) yaitu Kelas Pelatihan Ketrampilan yang di pusatkan di Rumah Missi.   Acara ini untuk yang pertama kalinya dilaksanakan secara gabungan walau pun sebelumnya anggota  Medan secara khusus sudah melaksanakan kegiatan keterampilan tersebut.

Walaupun rasa penat dan kantuk menghinggapi mereka, hal itu tidak menyurutkan semangat dan animo para peserta untuk mengikuti kegiatan STC, yaitu dengan banyaknya yang hadir terlihat jelas tidak hanya tua, muda, bapak-bapak dan ibu-ibu saja, tapi anak-anak athfal pun mereka cukup antusias dan serius dalam memperhatikan dan mendengarkan arahan, penjelasan, tanya-jawab dll dari para Tutor/pemateri. Peserta yang hadir dalam acara Pelatihan Keterampilan tersebut kurang lebih sebanyak 30 orang dari berbagai Cabang Jemaat yang ada di SUMUT Wilayah Barat & Wilayah Timur.  Data info yang di dapat bahwa, para peserta sebelumnya memang sudah di registrasi untuk mengikuti pelatihan.  Umumnya bagi mereka yang memiliki jiwa wirausahadan ketrampilan agar nantnya dapat mengembangkan sendiri di daerah mereka.

Acara Pelatihan Keterampilam tersebut dibagi kedalam dua sesi, sesi pertama diisi dengan Pelatihan Keterampilan IT( cara merakit Komputer) dan sesi yang kedua diisi dengan Pelatihan Keterampilan Menyamblon ( cara & teknis menyablon yang baik).  Sesi yang pertama ini dilaksanakan pada Sabtu malam, (9/07).  Acara yang dimulai setelah shalat Isya yang dipandu langsung pakar IT Jemaat Medan dengan Tutor Muhammad Syarif  menjelaskan cukup panjang lebar dan detail tentang perjalanan sejarah komputer hingga sekarang.  Kemudian bagaimana cara merakit computer, penjelasan yang panjang lebar dan detail tersebut membuat para peserta STC menjadi kebingungan. Karena sebagian besar peserta yang hadir adalah para pemula dalam pengetahuan IT khususnya dibidang Komputer ini.  Sehingga banyak menimbulkan pertanyaan dari para Peserta Keterampilan.  Tetapi syukurlah setelah banyaknya pertanyaan, para peserta mulai dapat memahami permasalahan komputer itu sendiri.  Bahkan Bp Miswanto sendiri yang tadinya tidak mengerti bagaimana itu komputer sekarang beliau memiliki keyakinan dapat merakit komputer.  Asala ada kemauan tambahnya.  Sesi pertama ini berlangsung selama 4 Jam sampai pukul 23. 30 malam, setelah acara sesi pertama selesai para peserta disuguhkan dengan berbagai macam tayangan Penyablonan pada Kaos dari beberapa Negara di Dunia, ada penyablonan secara sederhana/ manual yaitu masih menggunakan jasa manusia, ada juga yang menggunakan Fasilitas Modern yaitu dengan Menggunakan Mesin Sablon. Mulai dari Pemberian cat sampai Finishing/pengeringan sablon tersebut. Sehingga hal itu bisa membuat para peserta yang tadinya sudah mengantuk sekali pun terbangun lagi melihat tayangan penyablonan kaos tersebut. Yang paling menarik tentang penyablonan kaos yang ada dalam tayangan tersebut adalah yang berasal dari Negara India, dalam teknis penyablonannya tersebut ada adegan menginjak kain sablon tersebut.

Setelah shalat Shubuh para peserta usai menikmati hangatnya teh & sarapan pagi, tepat pukul 08.00 Wib.   Acara sesi kedua yaitu Pelatihan Keterampilan Menyablon langsung dimulai dengan Tutor Bapak Mubaligh Wilayah Medan, Mln. Murtiyono Yusuf Ismail. Berbeda dari sesi pertama dalam sesi kedua ini para perserta lebih bersemangat dan antusias lagi dalam mengikuti Kegiatan Pelatihan tersebut, karena pikiran pun masih fress dan fisik pun makin lebih bergairah setelah diistirahatkan beberapa jam sebelumnya.

Selama kurang lebih dua jam tutor dengan begitu santainya menyampaikan materinya, karena saking semangat dan antusiam para peserta banyak yang bertanya disela-sela tutor sedang menyampaikan materinya, sehingga hal itu menambah hidup suasana dalam Pelatihan Keterampilan Menyablon sesi kedua ini.  Setelah Tutor usai menyampaikan materinya, akhirnya yang ditunggu-tunggu para peserta pun sudah diujung mata yaitu mereka ingin langsung memperaktekan apa yang sudah mereka dapatkan dari Tutor tentang bagaimana menyablon pada kain/kaos tersebut.

Satu persatu sebagian peserta maju unjuk kebolehan untuk praktek langsung cara menyablon kaos pada kain, yang sebelumnya sudah diawali oleh tutor. Ada yang menyablon di atas jaketnya, ada yang di tishirt dalamnya, ada juga yang dikaos bola bahkan ada juga yang gagal karena kurang pas waktu mengepres cetakan sablonnya.  Namun para peserta semuanya merasa puas dan bangga karena mereka sudah dapat bekal ilmu dan Pengetahuan yang bisa mereka kembangkan dan karyakan guna kelangsungan hidup mereka dimasa yang akan datang. Sarmad