SKILLS TRANING CLASS

Tags

, , , , , , , , , , , , , , , , ,

Medan,(Mubarak).  Setelah shalat maghrib para peserta mulai berdatangan ke mesjid mubarak Medan.  (09/07). Tidak lain kedatangan mereka ke Mesjid Mubarak adalah untuk mengikuti SKILLS TRANING CLASS (STC) yaitu Kelas Pelatihan Ketrampilan yang di pusatkan di Rumah Missi.   Acara ini untuk yang pertama kalinya dilaksanakan secara gabungan walau pun sebelumnya anggota  Medan secara khusus sudah melaksanakan kegiatan keterampilan tersebut.

Walaupun rasa penat dan kantuk menghinggapi mereka, hal itu tidak menyurutkan semangat dan animo para peserta untuk mengikuti kegiatan STC, yaitu dengan banyaknya yang hadir terlihat jelas tidak hanya tua, muda, bapak-bapak dan ibu-ibu saja, tapi anak-anak athfal pun mereka cukup antusias dan serius dalam memperhatikan dan mendengarkan arahan, penjelasan, tanya-jawab dll dari para Tutor/pemateri. Peserta yang hadir dalam acara Pelatihan Keterampilan tersebut kurang lebih sebanyak 30 orang dari berbagai Cabang Jemaat yang ada di SUMUT Wilayah Barat & Wilayah Timur.  Data info yang di dapat bahwa, para peserta sebelumnya memang sudah di registrasi untuk mengikuti pelatihan.  Umumnya bagi mereka yang memiliki jiwa wirausahadan ketrampilan agar nantnya dapat mengembangkan sendiri di daerah mereka.

Acara Pelatihan Keterampilam tersebut dibagi kedalam dua sesi, sesi pertama diisi dengan Pelatihan Keterampilan IT( cara merakit Komputer) dan sesi yang kedua diisi dengan Pelatihan Keterampilan Menyamblon ( cara & teknis menyablon yang baik).  Sesi yang pertama ini dilaksanakan pada Sabtu malam, (9/07).  Acara yang dimulai setelah shalat Isya yang dipandu langsung pakar IT Jemaat Medan dengan Tutor Muhammad Syarif  menjelaskan cukup panjang lebar dan detail tentang perjalanan sejarah komputer hingga sekarang.  Kemudian bagaimana cara merakit computer, penjelasan yang panjang lebar dan detail tersebut membuat para peserta STC menjadi kebingungan. Karena sebagian besar peserta yang hadir adalah para pemula dalam pengetahuan IT khususnya dibidang Komputer ini.  Sehingga banyak menimbulkan pertanyaan dari para Peserta Keterampilan.  Tetapi syukurlah setelah banyaknya pertanyaan, para peserta mulai dapat memahami permasalahan komputer itu sendiri.  Bahkan Bp Miswanto sendiri yang tadinya tidak mengerti bagaimana itu komputer sekarang beliau memiliki keyakinan dapat merakit komputer.  Asala ada kemauan tambahnya.  Sesi pertama ini berlangsung selama 4 Jam sampai pukul 23. 30 malam, setelah acara sesi pertama selesai para peserta disuguhkan dengan berbagai macam tayangan Penyablonan pada Kaos dari beberapa Negara di Dunia, ada penyablonan secara sederhana/ manual yaitu masih menggunakan jasa manusia, ada juga yang menggunakan Fasilitas Modern yaitu dengan Menggunakan Mesin Sablon. Mulai dari Pemberian cat sampai Finishing/pengeringan sablon tersebut. Sehingga hal itu bisa membuat para peserta yang tadinya sudah mengantuk sekali pun terbangun lagi melihat tayangan penyablonan kaos tersebut. Yang paling menarik tentang penyablonan kaos yang ada dalam tayangan tersebut adalah yang berasal dari Negara India, dalam teknis penyablonannya tersebut ada adegan menginjak kain sablon tersebut.

Setelah shalat Shubuh para peserta usai menikmati hangatnya teh & sarapan pagi, tepat pukul 08.00 Wib.   Acara sesi kedua yaitu Pelatihan Keterampilan Menyablon langsung dimulai dengan Tutor Bapak Mubaligh Wilayah Medan, Mln. Murtiyono Yusuf Ismail. Berbeda dari sesi pertama dalam sesi kedua ini para perserta lebih bersemangat dan antusias lagi dalam mengikuti Kegiatan Pelatihan tersebut, karena pikiran pun masih fress dan fisik pun makin lebih bergairah setelah diistirahatkan beberapa jam sebelumnya.

Selama kurang lebih dua jam tutor dengan begitu santainya menyampaikan materinya, karena saking semangat dan antusiam para peserta banyak yang bertanya disela-sela tutor sedang menyampaikan materinya, sehingga hal itu menambah hidup suasana dalam Pelatihan Keterampilan Menyablon sesi kedua ini.  Setelah Tutor usai menyampaikan materinya, akhirnya yang ditunggu-tunggu para peserta pun sudah diujung mata yaitu mereka ingin langsung memperaktekan apa yang sudah mereka dapatkan dari Tutor tentang bagaimana menyablon pada kain/kaos tersebut.

Satu persatu sebagian peserta maju unjuk kebolehan untuk praktek langsung cara menyablon kaos pada kain, yang sebelumnya sudah diawali oleh tutor. Ada yang menyablon di atas jaketnya, ada yang di tishirt dalamnya, ada juga yang dikaos bola bahkan ada juga yang gagal karena kurang pas waktu mengepres cetakan sablonnya.  Namun para peserta semuanya merasa puas dan bangga karena mereka sudah dapat bekal ilmu dan Pengetahuan yang bisa mereka kembangkan dan karyakan guna kelangsungan hidup mereka dimasa yang akan datang. Sarmad

Jurnalisme Narrative Intolerance Dalam Liputan Isu Pluralisme

Tags

, , , , , , , , , , , , , ,

Medan, (Mubarak).  Senin (25/06), kira-kira pukul 09.15 WIB kami berenam yang terdiri dari Mln. Murtiyono Yusuf Ismail selaku Mubwil Sumut Barat, Mln. Surya Ahmadi  muballigh jemaat Namorambe, Mln. Sattar muballigh jemaat Berastagi dan tiga orang Lajnah tiba di sebuah Restourant Koki Sunda Jln. Hasanuddin No.1 Medan, dalam rangka menghardiri undangan seminar yang diselenggarakan oleh Aliansi Sumut Bersatu bekerjasama dengan KIPPAS dan didukung oleh Yayasan Tifa Jakarta. Kali ini tema yang diangkat ialah “Jurnalisme Narrative Intolerance Dalam Liputan Isu Pluralisme”  yang mengangkat studi kasus berita penurunan Patung Amithaba di Tanjung Balai Sumut.

 

Sebagai informasi bahwa polemik keberadaan patung Amithaba Vihara Tri Ratna kota  Tanjung Balai mulai muncul pada tanggal 30 Mei 2010. Sekelompok ormas islam di kota itu mendesak agar patung Amithaba diturunkan dari atas Vihara tersebut yang sudah dibangun dan diresmikan oleh wali kota Tanjung Balai pada bulan November 2009. Desakan disampaikan melalui DPRD dan pemerintah Kota Tanjung Balai karena dinilai keberadaan patung itu sebagai berhala dan merusak citra kota Tanjung Balai sebagi kota Islami. Sehingga oleh Walikota yang sama patung itu pun diturunkan beberapa bulan yang lalu.

Acara dibuka oleh Veriyanto yang akrab dipanggil Bang Very sebagai Direktur Aliansi Sumut Bersatu untuk menyampaikan maksud dan tujuan dilakukannya seminar ini. Selanjutnya acara dimulai oleh narasumber pertama Pamilianna Pardede Analis Media dari KIPPAS yang dalam majalah KUPAS edisi bln April 2011 ini juga memuat 20 halaman  berita khusus tentang Ahmadiyah terkait peristiwa Cikeusik dan dibagikan kepada seluruh peserta seminar. Beliau mempresentasikan hasil penelitiannya dari lima media surat kabar sebagai sample yang dianggap familiar di Sumut yang ikut memberitakan penurunan patung Amithaba tersebut. Adapun kelima media tersebut yaitu harian Waspada, Tribun, Berita sore, Medan Bisnis, dan Sinar Indonesia Baru. Dari hasil penelitiannya terbukti bahwa sejumlah media dalam memberitakan kasus tersebut sangat tidak berimbang. Sebagai contoh harian Waspada lebih dominan menampilkan narasumber dari organisasi Islam seperti FKUB, FPI Tanjung Balai, ketua komisi A DPRD, Gerakan Islam Bersatu (GIB), aktivis LSM yang pro penurunan dan Pemuka Agama Tanjung Balai. Seluruh narasumber yang ditampilkan ini adalah pihak-pihak yang menyetujui penurunan patung Budha Amithabaa. Sedangkan narasumber dari pihak Vihara hanya diberi ruang yang sangat sedikit yaitu sekitar 1-3 alinea dari 10-13 porsi alinea pemberitaan surat kabar ini. Sehingga  dari 7 berita dengan total 51 alenia, 45 alenia pro penurunan dan hanya 6 alenia yang diambil dari pihak Vihara.

Acara selanjutnya disampaikan oleh narasumber ke 2 yaitu ibu Aufrida Wisni Warastri seorang jurnalis harian kompas Medan yang menanggapi hasil penelitian dari KIPPAS tersebut. Beliau mengatakan bahwa pada hakikatnya wartawan sebagai jurnalis terikat oleh aturan-aturan yang disebut kode etik jurnalistik. Sebagai contoh di dalam salah satu sembilan elemen jurnalisme poin pertama menyebutkan “kewajiban pertama jurnalisme adalah pada kebenaran”.  Pada pasal 1 juga disebutkan “Wartawan Indonesia bersikap independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dan tidak beritikad buruk”.  Dengan adanya panduan tersebut seharusnya menjadikan media bersikap idealis dan independen. Wartawan yang akrab disapa mbak Wisni ini walaupun medianya tidak diteliti oleh KiPPAS namun beliau tidak memungkiri bahwa selalu ada pertentang antara idealis dengan bisnis sehingga  pemberitaan yang dilakukan oleh media lokal di Sumut masih bias dan tidak berimbang.  Diakui juga bahwa Editor sangat berpengaruh dalam menentukan sebuah berita layak atau tidak layak untuk dimuat. Maka ketika wartawan apalagi editor belum selesai dengan problem pluralisme dan multikulturalisme yang menghidupi bangsa ini, mereka akan kerepotan menyajikan berita yang berimbang pada pembaca.

Selanjutnya acara dibuka dengan tanya jawab yang sudah tentu penanya akan banyak mengkritik narasumber pembicara kedua sebagai wartawan/ jurnalis yang menyimpulkan media sebagi kompor karena telah memprovokasi masyarakat dengan berita yang tidak berimbang. Salah satunya Mln. Surya Ahmadi muballigh jemaat Namorambe memaparkan bahwa apa yang dialami oleh umat Budha di kota Tanjung Balai, seperti itulah perlakuan media yang selama ini dialami oleh jemaat Ahmadiyah khususnya di Indonesia. Banyangkan 5i alinea dari 7 berita hanya 6 alinea dari sumber aslinya, lantas informasi apa yang kita peroleh dari seklumit berita tersebut?. Selanjutnya Mln. Surya Ahmadi juga melontarkan pertanyaan langsung kepada para peserta yang hadir disana “siapa diantara saudara-saudara yang mengetahui tentang Ahmadiyah langsung dari sumbernya? Tampak peserta tidak ada yang menjawab, lantas beliau melanjutkan “ saya yakin saudara-saudara disini hanya mengetahui informasi tentang jemaat Ahmadiyah hanya dari media yang porsi alineanya sangat-sanyat tidak berimbang yang isinya hanya berupa hujatan dan fitnahan yang memicu kebencian masyarakat muslim Itulah yang terjadi selama ini. Tampak tersindir seorang mahasiswi jurnalis bertanya setelah itu, “ Bang kalo Ahmadiyah di medan ini dimana aja bang…?

Senada dengan peserta lain yang juga seorang wartawan media Global Medan saudara Warsito, beliau memberikan tanggapan bahwa apa yang dipelajari dimasa pendidikan tiori jurnalistik sangat baik sekali, namun pengalaman dilapangan membuktikan bahwa tiori tersebut tidak berlaku ketika disusupi oleh berbagai kepentingan yang ujung-ujungnya lebih mengedepankan bisnis alias uang.

Lebih ekstrim lagi oleh seorang editor Nias Bangkit Bapak Girsang setelah beliau memberikan berbagai komentar yang menyudutkan media beliau mengatakan bahwa sejumlah berita di dalam media yang meliput dan membesar-besarkan sara merupakan berita sampah.  Yang seperti ini harusnya tidak usah naik cetak.

Pada sesi akhir tanya jawab Mubwil Sumut Barat Mln. Murtiyono Yusuf Ismail juga memberikan komentarnya, beliau mengatakan “ bagaimana pun tidak dapat di pungkiri, bahwa media pasti akan berpihak.  Tetapi dia tetap harus netral.  Untuk itu ada tiga elemen yang barang kali bisa menjadi kontrol pers. Pertama, Media harus profesional, dan membenahi diri dengan menyajikan berita-berita yang berdasar dan tidak profokatif dan mengembangkan wawasan toleransi.  Kedua, Bagi [pihak yang memang merasa tersudutkan oleh pemberitaan, maka diperluan pendekatan-pendekatan dan kesadaran kritis untuk kemudian dapat membangun komunikasi yang baik dengan para pelaku media.  Dan yang ketiga, adalah hendaknya masyarakat juga kritis terhadap pemberitaan-pemberitaan yang beredar di masyarakat.  Jika ditemukan suatu media sangat profokatif maka masyarakat dapat menghukum media itu sendiri, misalkan dengan cara memboikot untuk tidak membeli medianya dll.

Selanjutnya acara ditutup sampai pukul 12.30 dilanjutkan makan siang dengan menu khas Sunda pada kesempatan itu lah undangan dari Jemaat Ahmadiyah berkesempatan berbincang-bincang dengan narasumber, para peserta dan berkumpul dengan panitia hingga tidak terasa waktu menujukkan pukul 15.30. S. Ahmadi

IJTIMA’ MKAI MEDAN DI PENANGKARAN ORANG UTAN

Tags

, , , , , , ,

Medan, (Mubarak).  Sabtu pagi itu (12/07)tampak cerah.  Angin bertiup tak terlalu kencang. Satu Bis Murni tampak stand- by di depan masjid.  Rupanya Majlis Khuddamul Ahmadiyah Medan sedang punya gawe.  Untuk mengisi liburan mereka mengadakan acara tahu nan yakni Ijtima’.  Para peserta Ijtima mulai berkumpul di Mesjid Mubarak Medan. Peserta dari cabang luar Medan sudah mulai berkumpul sehari sebelumnya. Peserta yang berangkat dari Medan meliputi cabang Medan, cabang Belawan, dan cabang Berastagi. Tepat pukul 09.30 Wib diawali dengan doa yang dipimpin oleh Bapak Mubwil Murtiyono rombongan pun berangkat menuju Bukit Lawang dengan sebuah bus. Bukit Lawang adalah sebuah kawasan objek ekowisata yang terletak di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser, tepatnya di Bahorok, Langkat, Sumatera Utara.  Daya tarik utama objek ekowisata Bukit Lawang ini adalah lahan rehabilitasi Orangutan Sumatera (Pongo Abelii), dimana para pengunjung dapat melihat dengan dekat bagaimana kehidupan Orangutan Sumatera ini.  Selain itu Bukit Lawang juga dialiri sebuah sungai yang besar dan jernih yang bernama Sungai Bahorok. Kita dapat mengarungi jeram Sungai Bahorok dengan menggunakan ban (Tubbing) dan rubber boat yang dapat memacu adrenalin. Kawasan Bukit Lawang ini pernah diluluh lantahkan oleh banjir bandang pada November 2003, namun kembali dibangun menjadi sebuah kawasan wisata yang patut dikunjungi di Sumatera Utara.  Atas dasar inilah Ijtima MKAI Sumatera Utara Wilayah Barat 2011 diadakan di kawasan Bukit Lawang ini.  Sepanjang perjalan menuju Bukit Lawang, pemandangan didominasi oleh perkebunan sawit yang membentang luas di kiri dan kanan jalan yang kami lewati, sesekali terdapat pemukiman penduduk diantara perkebunan sawit yang luas.  Setelah empat jam perjalanan, akhirnya kami tiba di kawasan Bukit Lawang.  Tampak juga MKAI cabang Namorambe yang baru juga tiba tidak lama dari bus rombongan Medan. Setelah menurunkan barang-barang dari bis, kami mulai berjalan menuju lokasi tepatnya Ijtima diadakan yang bera

da diseberang sungai.  Kami harus melewati sebuah jembatan kayu gantung sepanjang kurang lebih 100 meter untuk dapat sampai di lokasi. Tawa ceria adik-adik Athfal terpancar saat melewati jembatan gantung ini.  Dengan kondisi jembatan yang bergoyang ini mengharuskan adik-adik Athfal untuk dapat menjaga keseimbangannya agar tidak terjatuh. Hal ini juga tidak luput pengawasan dari Khudam.

Para peserta yang sudah berada di lokasi mulai membereskan barang-barang dan mulai membangun tenda serta persiapan makan siang. Tepat pukul 16.30 Wib ba’da sholat Zhuhur jamak Ashar pembukaan acara ijtima pun dimulai. Upacara dipimpin oleh saudara Yohan (QM Belawan) dan dibuka oleh bapak Murtiyono (Mubwil).  Ijtima 2011 ini dihadiri oleh 5 cabang dari Sumatera Utara Wilayah Barat. Cabang Medan dengan 15 khudam dan 11 Athfal, cabang Namorambe dengan 11 Khudam dan 5 Athfal, cabang Belawan dengan 7 Khudam dan 1 Athfal, cabang Hinai dengan 3 Khudam, dan terakhir dari cabang Berastagi dengan 2 Khudam dan 2 Athfal.  Jumlah Total peserta Ijtima 2011 dengan Khudam 39 peserta dan Athfal 18 Peserta.

Ada hal unik pada upacara pembukaan Ijtima 2011 ini. Para wisatawan mancanegara (bule) yang lewat disekitar tempat upacara banyak yang menonton dan ada juga yang menghampiri. Hal ini tidak disia-siakan untuk dapat berbagi cerita dengan bule tersebut. Bapak mubaligh pun tidak ikut ketinggalan untuk mengajak bule tersebut bermain tenis meja. kehangatan sore itu seakan menyampaikan pesan bahwa islam cinta damai, cinta akan semua tiada kebencian bagi siapapun.

Acara sore itu pun mulai diisi dengan perlombaan pesan berantai yang dimainkan didalam sungai. Dimana setiap hizeb diharuskan menyampaikan pesan dari orang pertama sampai orang terakhir.  Canda tawa ceria lepas sore itu disungai bahorok hingga petang menjelang.  Malam hari ba’da sholat Maghrib jamak Isya dan makan malam, pesera mulai berkumpul dan mengikuti perlombaan-perlombaan yang sudah disiapkan panitia. Perlombaan dimulai dengan Last Man Standing, dimana setiap hizeb harus menjawab pertanyaan yang diberikan para mubaligh hingga satu orang dari anggota hizeb yang bertahan. Orang terakhir dari setiap hizeb yang bertahan kemudian diadu lagi dengan orang terakhir hizeb lainya. setelah itu perlombaan dilanjutkan dengan memasukkan roti dari dahi menuju mulut, dimana setiap perwakilan hizeb baik Athfal dan Khudam harus memasukkan roti yang diletak didahi hingga masuk menuju mulut dengan tidak boleh menggunakan tangan. Tawa lucu dari perlombaan ini menambah suasana hangat pada malam itu. Sebelum istirahat peserta pun menyantap ikan bakar yang makin menambah suasana keakraban malam itu. Setelah semua ikan disantap habis para peserta pun beristirahat.  Minggu pagi diawali dengan sholat tahajud berjamaah dilanjutkan dengan sholat subuh, peserta mulai sibuk mempersiapkan makan pagi untuk mengisi tenaga untuk mengikuti cross country yang dijadwalkan pagi ini oleh panitia. Setelah makan pagi acara cross country pun dimulai.  Para peserta melewati rute-rute yang dipersiapkan panitia untuk sampai ke pos-pos yang sudah ditentukan. Tangtangan pada cross country ini yaitu menyebrang sungai, Mencari batu, serta menghitung tali pada jembatan gantung.

Setelah melewati semua tantangan cross country para peserta langsung terjun menuju sungai, air yang jernih dan bersih menambah kesegaran pagi itu. Ada yang melompat dari tebing disekitar sungai, ada juga yang bermain berenang mengikuti arus yang tenang. Saat asik bermain air terlihat seekor orangutan sumatera tampak bergantungan diatas pohon sekitar sungai bersama anaknya. Sontak semua mata tertuju padanya. Setelah lelah bermain air para peserta kembali ke camp masing-masing dan mempersiapkan makan siang dan mulai membereskan tenda masing-masing.

Ba’da sholat zhuhur jamak ashar acara penutupan ijtima 2011 dimulai. Para peserta pun berkumpul dan acara ditutup dengan doa yang dipimpin oleh bapak murtiyono.  Setelah doa, acara pembagian hadiah menjadi acara yang paling ditunggu-tunggu. Para peserta pun membereskan dan membersihkan lokasi ijtima sebelum berangkat pulang menuju rumah masing-masing. Fahim A

AMIR BERKUNJUNG KE MEDAN

Tags

, , , , ,

Sort Prayer Medan, (mubarak). (02/05).  Udara di Medan pagi itu terasa segar dan ringan. Pagi ini Mubwil Murtiyono Yusuf Ismail bersiap diri menunggu Bp Junaidi guna menjemput Amir Nasional Mln. H Abdul Basit Shd, yang sedianya akan berkunjung ke beberapa Jemaat di Sumatera Utara. Kedatangan Amir Nasional merupakan pelunasan hutang kehadiran beliau yang tertunda ketika tidak dapat hadir pada Jalsah Salanah di Medan awal 2011 yang lalu. Dengan senyum khasnya beliau menyapa para anggota yang ketika itu sudah siap untuk melaksanakan ibadah Sholat Juma’at. Mubwil juga telah memberikan kesempatan kepada Amir Nasional untuk menyampaikan materi khutbah Jum’at. Dalam Khutbah Juma’at beliau mengulas prihal “Perlunya sabar dalam setiap Musibah”. Selepas Khutbah dan Imam Sholat Juma’at, beliau melanjutkan diskusi dan tanya jawab dengan para anggota dan saling melepas rindu. Tak bisa di hindarkan, sesekali beliau menyisipkan beberapa humor dalam percakapan. Tepat pukul 15.00 Amir Nasional melanjutkan kunjungannya ke Tebing Tinggi dengan diantar oleh Mubwil Murtiyono dan rombongan diantaranya (Keluarga Mubwil, Mln. Sarmad Ahmad, Mln Abdus Satar dan Seorang Anshor Bp Nasboon Hasibuan SH). Tepat pukul 17.00 rombongan sampai ke Masjid Tebing Tinggi. Menjelang Maghrib para anggota Jamaah di Tebing Tinggi dan beberapa Jemaat terdekat, mulai berdatangan henda bersilaturrahmi dengan Amir Nasional. Ba’da Sholat Maghrib di jamak dengan Isya’ dilakukan makan malam. Kemudian setelah itu diskusi dan tanya jawab pun di lakukan. Suasana akrab, hangat dan penuh dengan kekeluargaan mewarnai pertemuan malam itu. Namun kali ini rombongan bertambah satu mobil yaitu rombongan Anshorullah dari Tebing yang hendak melaksanakan pertemuan Anshorullah di Tanjung Balai. Dikarenakan adanya permintaan untuk mampir ke Cabang di Kandangan, maka hari sabtu pukul 08.00 Amir menyempatkan diri mengunjungi Cabang Kandangan. Setelah bertemu dengan para anggota, melihat kondisi Masjid dan rumah misi, Amir memimpin doa untuk kemjuan anggota di Kandangan dan juga untuk keselamatan di perjalanan. Kembali rombongan melanjutkan perjalanan menuju Tanjung Balai. Dua jam kemudian kami sampai di Tanjung Balai. Suasana sangatlah meriah. Rombongan disambut dengan senyuman oleh para anggota yang telah berkumpul menunggu kedatangan kami. Dalam pertemuan Amir Nasional memberikan arahan kepada para anggota, bagaiman harus berlaku sabar dalam setiap menghadapi ujian. Lebih jauh beliau menjelaskan bagaimana perlunya memperkuat kedekatan kita dengan Allah Ta’ala dan melaksanakan sebaik-baiknya contoh suri tauladan Nabi Muhammad Rasulullah SAW. Karena di dalam keitaatan kepada-Nya lah kita akan mendapatkan jalan kesuCheckingksesan dan keselamatan berapa besar pun cobaan itu. Setelah makan siang dan diskusi tanya jawab, Amir Nasioanal dan rombongan berpamitan untuk kembali lagi pulang ke Medan. Dalam perjalanan pulang, ada hal yang lucu, yaitu ketika Amir menanyakan kepada Mubwil menanyakan “sudah berapa lama mengemudikan mobil keluar kota? Mubwil mejawab sekitar baru 2 kali ini pak. Lalu Amir pun sambil tersenyum berkata “pantas kaki saya ikut ngerem..:))”. Alhamdulillah perjalan selam empat jam menuju Medan dilalui tanpa halangan dan sangat berkesan. Karena sepanjang jalan, rombongan hampir tidak ada yang mengantuk karena jok-jok Amir Nasional dapat membius rombongan untuk tidak tertidur, hingga tiba kembali ke Medan pukul 20.30.

Keesokan harinya pada hari minggu kami mengadakan perjalanan kembali.  Kali ini kami menuju Brastagi.  Suasana sejuk dan perkebunan sepanjang Jalan Brastagi mempu melupakan rasa letih kami di perjalanan.  Setlah sampai di Masjid, anggota telah ada di Masjid.  Percakapan kecil pun terjadi prihal bagaimana keadaan anggota di Brastagi.  Tak terasa masuk sudah waktu Sholat Dhuhur.  Kami pun bergegas menunaikan sholat Dhuhur.  Setelah Shoat selesai kami di hidangkan makan siang.  Peretemuan tersebut terasa akrab sekali ditambah lunch yang segar hasil sayur mayur kebun anggota.  Setalah puas berbincang dengan sesekali tawa terlontas, nampaknya rombongan memang sudah harus pulang.  Kami pun berpamitan.  Rupanya kami sudah di tunggu Ketua Medan Bp Rafiq Ahmad di rumah beliau untuk makan malam.  Namun yang luar biasa, setelah pulag ke Masjid, kami pun sudah di sambut kembali untuk santap malam di rumah Ibu Ida Yono. Sufi

PEKAN ATHFAL ON VOCATION

Tags

, , , , , , , , , , , ,

Di sungai mandi pagi

Medan, (Mubarak)

Kemeriahan akhir tahun Masehi pasti di rayakan di seluruh dunia, begitu pila yang di rasakan Athfal di Sumatera Utara Wilayah Barat (Medan).  Dengan diadaknnya Pekan Athfal bertema Athfal on Vocation  banyak Athfal yang antusias mengikuti acara tersebut.  Pekan Athfal di akhir tahun ini mengmbil lokasi di Jema’ah Rampah Baru-Namorambe dimana Mln. Surya Ahmadi  yang menjadi Muballigh di sana.  Pekan Athfal akhir tahun ini di ikuti empat Jemaah Lokal, yaitu Namorambe, (tuan rumah sendiri), Medan, Tanjung Morawa dan Belawan dengan jumllah keseluruhan peserta 17 orang.  Rupanya acara Pekan Athfal ini mampu menyedot minat dari LI dan Nashirat untuk ikut bersama-sama membuat kegiatan yang sama.  Maka tak pelak lagi acara semakin bertambah meriah.

Dengan lokasi aoutbound di sebuah ladang milik anggota, nampaknya cukup memberikan tantangan tersendiri bagi para peserta.  Di tengah-tengah kondisi natural perkebunan coklat, padi, singkong  dan sungai turut memberikan suasana segar bagi pesrta.  Pekan Athfal akhir tahun ini dimeriahkan dengan banyak kegiatan seperti hapalan Juz Amma, tebak gerak, Api unggun, dan mandi-mandi di sungai yang sangat di minati para Athfal.  Kondisi terjal dan licin Karena semalam di guyur hujan sangat memberikesan tersendiri bagi peserta, Nampak sesekali peserta terjatuh dalam perjalanannya menuju lokasi.  Pekan Athfal ini di hadiri oleh Mubwil SUMUTWILBAR Mln. Murtiyono Yusuf Ismail, Mln Surya Ahmadi, Qaid Majlish Bang Fahim Ahmad dan Nazim Athfal Bang Fahrizal Ahmad.

Para Athfal di SUMUT tidak manja, buktinya mereka dengan susah payah mendirikan dua tenda sendiri.  Mengenai logistic, mereka pun mandiri dengan membawa telur, indomi dan beras untuk dua kali makan malam dan sarapan pagi.

Mudah-mudahan Pekan Athfal di akhir tahun ini, membuat para Athfal bertambah dewasa, mandiri dan selalu taat menjalani hidupnya sebagai seorang ahmadi yang mukhlish.  Amin. FA Tarigan

 

Masjid Mubarak Medan di Bongkar

Tags

, , , , , , ,

Medan, (Mubarak)

Bebarapa bangunan yang ada dalam badan Masjid Mubarak Medan di bongkar dan direnovasi kembali, Senin (27/10)
Setelah mengalami pergantian pengurus Amilah Jama’ah Medan, ada beberapa masih memegang jabatan lama, dan sebagian juga telah mengalami perubahan. Seperti halnya Sekretaris Jaidad Cabang pun juga mengalami pergantian. Khaerul Ahmad pejabat Jaidad yang lama digantikan oleh Mahmud Ahmad sebagai pejabat baru. Kali ini pejabat baru pun memiliki tugas baru yaitu meneruskan pembanguna Masjid yang sampai hari ini pun belum kunjung kelar. Tanggung jawab besar telah menunggu pejabat baru untuk melanjutkan program-program lama yang belum selesai. Maka tanpa berfikir panjang lagi, dalam rapat Amilah Cabang menunjuk, Penasehat Mubwil SUMUTWILBAR Penanggung Jawab Pembangunan Sekr. Jaidad, Pimpro Khaeruddin Basri, Sekretaris R Fauzy anggota Miswanto dan Fahim.
Adalah melanjutkan kembali pembangunan Masjid yang baru sekitar 50 % adalah program utama Jaidad Cabang Medan. Setidaknya ini lah yang menandai pembongkaran beberapa bangunan sementara yaitu tempat wudhu ibu-ibu yang rencana akan di teruskan dengan pembangunan tiang Masjid. Hal ini dilakukan menurut Pimpro (Bp Khaeruddin Bashri) dikarenakan kurangnya dana sehingga banyak bangunan kondisional yang bersifat sementara, sehingga di perlukan pembongkaran-pembongkaran guna melanjutkan program kerja pembangunan yang telah ditetapkan. Hampir dalam setiap kegiatannya Bp Mubwil memantau dan sesekali mengarahkan secara teknis apa yang menjadi pekerjaan tukang. Harapan beliau semoga kedepan tidak ada lagi pembongkaran-pembongkaran yang tidak perlu dikarenakan bangunan sementara. Atau berusaha menghindari pembangunan-pembangunan yang bersifat sementara. Semoga Jama’ah Medan segera memiliki Masjid yang elegan nyaman dan representative. Tentunya ini bukan pekerjaan yang mudah, diperlukan kesiapan mental, cita-cita serta semangat bersama. Ikram

MKAI Medan Ngaliwet

Tags

, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Medan, (Mubarak)

Malam sangat cerah dilangit Kota Medan, nampak kesibukan di rumah Misi Medan. Dalam kesibukan malam itu rupanya ada acara kecil-kecilan, ngaliwet, setidaknya itulah judul dari pertemuan malam itu (24/09).
Ya, ngaliwet ini merupakan kebiasaan masyarakat Cianjur Jawa Barat untuk mengikat tali kekerabatan.   Sedangkan yang mengolah makanan untuk urusan nasi dan perlengkapan santap malam adalah Ibu Mubwil sendiri, ini juga karena ibu Mubwil berasal dari Cianjur dengan di temani oleh Nurul salah seorang anggota LI Medan. Sedangkan para Khuddam sibuk membakar ikan bakar yang di sumbang langsung oleh seorang Anshar Bp Muslihuddin Nashir sebanyak 1 kg ikan Laut dan 1 kg ikan Mujaer.   Acara tersebut memang sedikit mendadak. Beberapa Khuddam berdatangan untuk memenuhi undangan yang di kirim melalui SMS saja.   Ada sekitar 9 orang Khuddam, 1 Athfal, 1 abna dan 2 LI yang ikut meramaikan acara tersebut. Para Khuddam bertanya-tanya kepada Bp Mubwil, ini acara apa pak? Beliau menjawab, ini acara hanya sebagai bentuk menandai niat yang akan di kerjakan dalam rangka mensukseskan agenda dan harapan baru untuk kemajuan Jama’ah Ahmadiyah Medan.
Acara malam itu sangat meriah akrab dan santai, berhiaskan asap dari pembakaran ikan dan asap kertas bekas alas telur yang di peruntukkan mengusir nyamuk malam itu.  Nyamuk malam itu sangat banyak, hal ini dikarenakan beberapa halaman Masjid yang dipenuhi semak belukar sudah mulai dibersihkan.  Para khuddam sangat menikmati makanan khas Cianjur tersebut.   Nasinya harum, enak dan khas, setidaknya itulah beberapa kalimat yang terlontar malam itu sebagai ekspresi dari rasa senang dapat berkumpul dalam acara tersebut.
Rupanya ikan bakar, nasi liwet dan lalapan, dapat meningkatkan konsentrasi mereka untuk mendengarkan beberapa nasihat Bp Mubwil Murtiyono YI. Tanpa terasa oleh para Khudam, beliau membawah pada suasana diskusi kecil seputar kemajuan, dan langkah-langkah yang harus para khuddam kembangkan di Medan ini.  Beliau mengarahkan bagaimana pentingnya khudam untuk ikut aktif dalam  kegiatan cabang.  Karena ini bukan saja akan bermanfaat bagi Jemaat, yang terpenting akan membawa manfaat bagi perubahan pribadi masing-masing.  Sehingga dapat berdampak meningkatnya ibadah dan kecerdasan diri.  Akhirnya harapan bersama diikat dalam pertemuan malam itu.  Jayalah MKAI Medan, maju terus demi masa depan mu. Ikram

DO’A KHATAM AL-QUR’AN

Tags

, , , , , , , , , , , , ,

Medan, (Mubarak)

Tepat pukul 18.00 WIB (07/09), senja mulai menyingsingkan lengannya, suara hilir mudik sepeda motor dan mobil para pengendara yang berlalu lalang di depan Masjid Mubarak Medan, ikut meramaikan meriahnya sambutan Iedul Fitri yang hanya tinggal dua hari lagi. Namun di tempat lain yakni di sebuah ruangan salah satu bangunan yang terletak di sebelah Utara bangunan Masjid Mubarak, anak-anak Athfal, Nashirat maupun LI (Lajnah Imaillah Medan) sedang khidmat mengikuti acara Do’a bersama. Acara ini menandai berakhirnya Dars Al-Qur’an yang di tilawatkan secara missal di Masjid Mubarak setiap habis Sholat Fardhu. Acara itu di pimpin langsung oleh Bp Mubwil Mln. Murtiyono Yusuf Ismail. Dalam pesannya beliau memesankan kepada anak-anak peserta Dars Al-Qur’an, bahwa acara Do’a bersama Dars Al-Qur’an ini bukan berarti berakirnya kita dalam membaca Al-Qur’an. Tetapi acara ini harus menjadi penyemangat dalam Dars Al Qur’an di sehari-hari baik di rumah maupun di Masjid. Tidak cukup sampai disitu beliau juga memesankan agar Dars Al-Qur’an harus terus di pelajari untuk lebih dimengerti arti dan maksud ayat yang kita baca dan untuk kemudian di amalkan. Beliau juga mengoreksi bahwa masih sedikitnya anak-anak Athfal yang ikut berperan serta dalam acara Dars al-Qur’an tersebut. Acara yang di pandu oleh Ustadzah Umi Nurul, Ustadzah Seruni, Ustadzah Mimi dan di koordinir oleh Pjs. Ketua LI Kak Neila panggilan akrabnya terhitung sukses. Karena sepanjang bulan Ramadhan diadakan acara buka bersama di Masjid yang rata-rata di dominasi kaum hawa. Sedangkan ada juga acara buka bersama seminggu sekali di Masjid Mubarak Medan. Dalam kesempatan yang sama dibagikan juga hadiah-hadiah bagi yang telah khatam Al-Qur’an dan rajin Sholat berjamaah di Masjid. Kemudian tidak banyak lagi yang Bp Mubwil sampaikan dikarenakan sudah menunggunya agenda kunjungan ke rumah anggota yang meminta kesedian beliau untuk berbuka bersama di rumah Bp Hanifan salah seorang anggota di kelompok Kampung Banten. Maka acara di tutup dengan do’a oleh Bp Mubwil Sumutwilbar Mln.Murtiyono Yusuf Ismail. Segala harapan berkah-berkah dari bulan Ramadhan ini dapat di peroleh oleh seluruh anggota dan saudara muslim lainnya terakumulasi dalam do’a, Bp Mubwil layangkan. Ikram

SINABUNG MELEDAK

Tags

, , , , , , ,

Medan, (Mubarak)

Gunung Sinabung yang terletak di Kabupaten Tanah Karo, Sumatera Utara meletus Sabtu (28/8/10) tengah malam pukul 23.30 WIB.

Setelah Mubwil, Murtiyono Yusuf Ismail tengah membuka Twitter, beliau melihat adanya berita permohonan doa dari teman sejaringannya Ndorokakung untuk saudara kta yang tinggal di kaki Gunung Sinabung, karen sedang menghadapi bencana meletusnya Gunung Sinabung. Maka sekitar pukul 00.30 beliau langsung menghubungi Muballigh Mln. Tarmizi Ali, Nurdin Ginting (Ketua Jemaat Brastagi), Koto (Ketua Jemaat Kaban Jahe) dan beberapa anggota seperti Mamak Siti dan Bp Edi. Namun dari nama-nama yang dihubungi ada hanya Bp Koto dan Mamak Siti yang dapat diajak komunikasi.
Dalam hal ini Mubwil meminta info kondisi anggota. Mubwil Menginstruksikan agar Bp Koto meluncur ke rumah Bp Nurdin Ginting dan Bp Mblg untuk memberitahukan kejadian Meletusnya Sinabung, dan dan memberikan petunjuk untuk membantu korban bencana yang sedang kebigungan mengungsi. Bantulah sesuai kemampuan yang ada, terutama memobilisasi korban untuk menjauh dari radius ledakan, yang sementara ini Kota Brastagi atau Kaban Jahe masih relatif aman.
Baru sekitar pukul 03.00 Mln. Tarmizi baru menghubungi krn adanya pesan sms dari Mubwil. Beliau melaporkan bahwa ada sekitar dua jaman debu vulkanik menyelimuti Masjid dan Rumah missi di desa Semangat tersebut. Dan sudah sangat macetnya akses utama jalan menuju ke kota Brastagi.

Keseluruhan warga yang berada di sekitar kaki gunung Sinabung juga dilaporkan telah mengevakuasi diri ke arah kota Kabanjahe. Selain anggota keluarga, masyarakat juga dilaporkan berupaya membawa sebagian barang milik mereka untuk diamankan.

Sebelumnya, masyarakat sekitar Gunung Sinabung tidak menduga gunung akan meletus karena mendapat informasi dari petugas Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) bahwa gunung tersebut masih dalam kondisi aman, namun tiba-tiba meledak, beberapa penduduk yang ditemui.

Sebelumnya Gunung Sinabung yang memiliki ketinggian 2.460 meter di atas permukaan laut itu mulai menunjukkan aktivitasnya dengan mengeluarkan asap hitam pada hari Sabtu (28/08) pagi.

Lebih lanjut Bp Mubwil memberikan petunjuk apa saja yang harus dilakukan jika kondisi semakin kritis. Beliau juga terus akan berusaha menghubungi Tim Humannity First (HF) atau Umur Ama PB untuk menindak lanjuti bantuan korban bencana Gunung Berapi. Dari info yang di himpun Tim HF Nasional melalui Bp Eki sudah mendapat konfirmasi dari Bp Mubwil tentang kjadian ini. Pihaknya akan terus memantau perkembangan dilapangan. M.sufi